Air Kehidupan

Air Kehidupan

Foto oleh Mohamed Nohassi on Unsplash Semua hal,terkecuali cinta kepada yang Maha Indah,walaupun tampak manis bagai gula,sebenarnya membuat jiwa menderita.Apakah itu penderitaan jiwa?Menyongsong kematian seraya tidak menggenggamAir Kehidupan. [1]Umumnya manusia, menancapkan pandangan ke dua matamereka kepada bumi dan kematian: seraya mereka menyimpan seratus keraguan tentang Air Kehidupan.Berjuanglah sehingga seratus keraguanmu berkurang jadi sembilan puluh: bergeraklah maju kepada Allah pada malam harinya alam ini; karena jika engkau tertidur, sang malamlah yang akan meninggalkanmu.Di tengah gelapnya malam, carilah Siang yang terang:ikutilah Akal Sejati yang menelan kegelapan.Di balik hitamnya jubah malam, yang sewarna kejahatan, terdapat banyak kebaikan: Air Kehidupan itu pasangan kegelapan.Tapi bagaimana…
Read More
Kebakaran Besar di Masa Sayidina Umar ra

Kebakaran Besar di Masa Sayidina Umar ra

Gambar oleh LoggaWiggler dari Pixabay Sebuah kebakaran besar terjadi di masa kekhalifahan Sayidina Umar ra: kobarannya menelan bebatuan layaknya api menghancurkan kayu kering. Api menelan rumah dan bangunan, melonjak tinggi sampai mengancam burung-burung dan sarang mereka. Separuh kota tertelan api; air bagai gentar dan gagap menghadapinya. Mereka yang masih bisa berfikir terus menyiramkan air, bahkan cuka, untuk memadamkannya. Sungguhpun demikian, kobaran api malah meningkat, sampai datang bantuan dari yang Tunggal, yang tak-Terbatas. Orang-orang bergegas mendatangi Umar ra, sambil berkata, "api itu sama sekali tidak dapat dipadamkan dengan air." Beliau ra. menjawab, "api itu adalah salah satu tanda dari Allah: itu…
Read More
Tunaikanlah Maharnya

Tunaikanlah Maharnya

Gambar oleh Rothart dari Pixabay Karenanya, bersama siapapun engkau ingin bersanding, tunaikanlah maharnya: tenggelamkan dirimu sepenuhnya dalam kecintaanmu, seraplah bentuk dan ciri-cirinya. Jika yang engkau kehendaki adalah cahaya, siapkanlah dirimu untuk menerimanya. Jika engkau ingin berjarak dari Tuhan, pupuklah cinta diri-sendiri dan menjauhlah. Jika engkau ingin mencari jalan keluar dari penjara lapuk ini, [1] jangan palingkan wajahmu dari Sang Kekasih, sujud dan mendekatlah. [2] Catatan: [1] Jika ingin jiwa bebas dari penjara jasmani. [2] QS [96]: 19 . Sumber: Rumi: Matsnavi, I: 3605 - 3607.Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.Pertama kali diunggah di:http://ngrumi.blogspot.com/2009/10/tunaikanlah-maharnya.htmlpada 23 Oktober…
Read More
Salah Mengeluh

Salah Mengeluh

Nurul bersama ikan Papakullu, di pantai Tope Jawa, 6 Agustus 2010 Seorang hamba, yang tengah dirundung kesulitan, mengeluh, dengan berbagai cara,  kepada Rabb-nya. Dan Rabb berkata, "bukankah dengan semua derita dan sakitmu engkau menjadi taat dan berdo'a dengan berendah-hati kepada-Ku; Seharusnya yang engkau keluhkan adalah semua kelimpahan yang engkau terima,  yang menyebabkan engkau menjauh dari pintu-Ku." Sejatinya, musuhmu adalah obat bagimu: dia ramuan-penyembuhmu,  dia hadiah untukmu,  dia yang menguasai hatimu; karena dia, engkau bergegas ber-khalwat bersama Rabb-mu dan sepenuh-diri berusaha mencari Rahmat-Nya. Sumber: Rumi: Matsnavi  IV: 91 - 95 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi. Pertama kali diunggah di: https://ngrumi.blogspot.com/2010/10/salah-mengeluh.html pada 18…
Read More
Tersibukkan Urusan Dunia

Tersibukkan Urusan Dunia

Senyum si bayi, RSAI Bandung, 20 September 201 Takdir itu bagaikan Singa,yang menyeret diri kita, yang sedang tersibukkan urusan dunia,menuju ke hutan kematian. Karena takut miskin,orang menceburkan diri ke dalam lautan dunia,sampai nyaris tenggelam. Jika yang mereka takuti adalah Dia,yang menciptakan bagi mereka sedikit kemiskinan, [1]maka harta-karun akan muncul dengan sendirinya.  [2] Karena takut akan bala-bencana,orang malah tenggelam dalam inti dari bala-bencana:dalam mencari kemegahan penghidupan di dunia,mereka kehilangan kehidupan sejati. Catatan: [1] QS [2]: 155 [2] Harta karun: Sesuatu yang disimpan dalam inti qalb insan, dan dijaga dengan pagar syariah para nabi, lihat QS [18]: 82. Sumber:  Rumi: Matsnavi  III 2204 -…
Read More
Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Foto: pertama kali si bayi ke rumah Aki, di Kadungora, 13 Agustus 2010 Aku seorang pencinta,dan dari cinta-Nya,aku tak menghindar. Aku seorang ksatria,dan dari medan perang,aku tak menghindar. Layaknya seekor singa,kuserang para singa lain.Tapi bagai seekor rubah,dari jepitan kepungan,aku tak menghindar. Walaupun lengkung lelangit tujuanku,dari jebakan alam-dunia,aku tak menghindar. Walaupun aku ini obat bagi bermacam penyakit,tapi dari rasa-sakit orang lain,aku tak menghindar. Kuikuti para nabi dengan seluruh jiwaku,tapi dari rekan yang jahat,aku tak menghindar. Aku hidup dalam wadah kecil,bernama kehidupanku ini;aku masih tinggal disini, karena jiwaku tak menghindar. Satu-satunya sebab diterpanya akuoleh anak-panah lirikan-Nya, adalah karena dari anak-panahyang berasal dari busur yang…
Read More
Semuanya Beringsut dengan Enggan di Jalan Ini, kecuali…

Semuanya Beringsut dengan Enggan di Jalan Ini, kecuali…

Foto: Antón Jáuregui on Unsplash Sang Nabi saw, berkata,para ahli surga itu lemah dalam berdebat karena keagungan pencapaian mereka; Karena sempurnanya kehati-hatian mereka dan menganggap rendah diri sendiri, bukan karena lemah-akal, pengecut atau lemah-iman. Dengan memberikan keuntungan kepada lawan mereka,diam-diam mereka mendengar hikmah ayat "... dan kalau tidaklah terdapat disana para lelaki beriman ..." [1] Maka, tidak menyentuh kaum kafir yang tercela itu menjadi suatu tugas, demi membebaskan kaum beriman. Bacalah kisah perjanjian Hudaibiya: "... adalah Dia yang menahan tanganmu dari mereka..."; dari sabda itu pahamilah keseluruhan kisah. [2] Bahkan dalam kemenangan, sang Nabi saw, memandang dirinya sendiri dikendalikan oleh buhul-tali Keagungan Ilahiah. (Beliau saw, bersabda,) "Bukanlah aku tertawa…
Read More
Khazanah Tersembunyi

Khazanah Tersembunyi

Di dalam Masjid Demak, foto oleh hs, 2014 "Wahai Rabb," Nabi Dawud as, bertanya,"Karena Engkau sedikitpun tidak membutuhkan kami, maka jelaskanlah mengapa Engkau ciptakan kedua alam?"   [1]Rabb menjawab,"Wahai insan,Aku adalah sebuah khazanah tersembunyi,  Kucinta jika khazanah kasih-sayang dan kepemurahan diungkapkan.   [2]Kutampilkan sebuah cermin:bagian mukanya adalah qalb,bagian belakangnya adalah alam dunia;Jika bagian mukanya tak engkau ketahui,maka bagian belakangnya tampak lebih baik."  [3]Jika jerami masih bercampur dengan tanah-liat,bagaimana mungkin cermin dapat berfungsi.Ketika engkau pisahkan jerami dari tanah-liat,cermin menjadi jernih.Buah-anggur tidak berubah menjadi minuman,seandainya tidak diragikan di dalam guci;Jika ingin qalb-mu tumbuh cemerlang,perlu engkau lakukan sedikit upaya.Kepada jiwa yang keluar dari tubuh,berkata Sang Raja: "Engkau datangsebagaimana engkau bertolak:dimanakah…
Read More
Dzun-Nun, Sang Pemilik “Nun”

Dzun-Nun, Sang Pemilik “Nun”

Foto oleh HS – Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda – 7 Juni 2015 Kujumpai Yunus,tengah duduk dia sendirian,di tepi pantai samudera cinta."Bagaimana kabarmu?" ku bertanya. Dan dia menjawab dengan caranya yang khas:"Di dalam samudera aku menjadi makanan ikan,lalu aku melengkung bagai huruf 'nun'sampai aku sendiri menjadi Dzun-Nun." Sumber: Rumi: Divan 1247,Dikutip oleh Annemarie Schimmel dalam "Mystical Dimension of Islam," hal 416Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumiTerjemahan ini pertama kali dipublikasikan di Facebook FanPage ngRumi pada 9 April 2016.
Read More
Datang Semata untuk Bersaksi

Datang Semata untuk Bersaksi

di Panenjoan, Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat – 2016 Kehadiran kita di ruang sidang Sang Hakim ini [1]untuk membuktikan kebenaran pernyataan kita,"kami bersaksi;" ketika dalam Perjanjian itu kita ditanyai, "bukankah Aku Tuhanmu?" [2]Karena kita telah membenarkan,maka dalam persidangan ini ucapandan tindakan kita menjadi saksi dan buktibagi kesepakatan itu.Ruang sidang Sang Hakim bukanlah tempat untuk membisu.Bukankah kita datang ke sini untuk memberikan persaksian?Wahai saksi,berapa lama lagi engkau diperiksadi ruang sidang Sang Hakim?Segeralah berikan pernyataanmu.Engkau telah dipanggil ke sini,dan telah datang engkau, [3]semata untuk bersaksi.Lalu mengapakah engkau bersikukuh diam?Di ruang tertutup ini engkau ikut menutup mulutmaupun tanganmu. [4]Kecuali engkau berikan pernyataan itu,wahai saksi, bagaimana caranyaengkau akan keluar dari sidang…
Read More