Kebajikan Air

Kebajikan Air

Maribaya, 2012. Diturunkan air berbentuk hujandari langit penuh bintang,[1]agar ia membersihkan kotorandan ketidak-murnian. Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci. Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor ––sedemikian rupa[2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan–– Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: di sanaHakikat Air memurnikannya kembali.[3] Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,[4]panjang menjuntai. Bertanya Bumi kepadanya, "Ke mana saja engkau pergi?" Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini,…
Read More
Rumah yang Sempit dan Gelap

Rumah yang Sempit dan Gelap

di sebuah pemakaman tua di daerah Panjalu, Kawali, September 2021 Seorang anak menangis,    di samping keranda ayahnya, seraya merintih:  "Mengapakah mereka masukkan engkau   ke dalam rumah yang begitu sempit,   begitu dingin dan gelap,   tak ada karpetnya, tak ada pintunya,   tak ada pula jalan keluarnya! Tak ada semerbak harum masakan,   tak ada tetangga yang ramah;   mengapa mereka masukkan engkau   ke tempat yang demikian sunyi?" Seorang anak yang lain      mendengar rintihan  itu,    dan bertanya kepada ayahnya:   "Ayah, apakah mereka membawa mayat itu   ke rumah kita?" "Sungguh dungu pertanyaanmu,"   jawab ayahnya dengan kesal.    "Tapi,  Ayah," anak itu melanjutkan,   "apa yang…
Read More
Tangga ke Langit

Tangga ke Langit

Kadungora, Garut   Indera ragawi adalah tangga ke alam dunia ini, sementara indera ruhaniah adalah tangga ke langit. Carilah obat bagi sembuhnya indera ragawi  dari seorang tabib; dan mohonlah kesembuhan indera ruhaniah kepada Sang Kekasih. Kesehatan indera jenis pertama muncul dari kebugaran tubuh; sementara kesehatan indera jenis ke dua timbul dari runtuhnya tubuh. Jalan ruhaniah itu meruntuhkan tubuh, dan setelah itu mengembalikannya ke kemakmuran. Runtuhkanlah rumah agar khazanah keemasan tergali, dan dengan harta itu  bangunlah rumah baru, yang lebih baik daripada rumah sebelumnya.  [1] Bendunglah aliran sungai dan bersihkanlah dasarnya, kemudian alirkanlah air bersih masuk ke dalamnya. Torehlah kulit dan keluarkanlah duri, kemudian…
Read More
Periksalah dengan Teliti

Periksalah dengan Teliti

  Mengenai lelangit yang sedemikian indah dan agung,Tuhan bersabda: "... maka pandanglah berulang-kali...".   Tentang atap cahaya itu,janganlah puas hanya dengan sekali pandang,periksalah dengan teliti,  "... adakah cacatnya?"   Karena Dia telah memerintahkanmuagar memeriksa dengan teliti atap yang sempurna itu--bagaikan kau mencari kesalahan orang lain--   maka akan kau sadari,betapa banyak pemeriksaan dan penyelidikanyang diperlukan oleh bumi yang gelap,agar memenuhi syarat.       Catatan: "... maka lihatlah berulang-kali, adakah kau lihat sesuatu yang cacat? " (QS al-Mulk [67]: 3).   Para pemuka ilmu hikmah menyatakan bahwa, "alam itu bagaikan insan yang besar,sementara insan itu bagaikan alam yang kecil."   "Memeriksa bumi…
Read More

Kemurahan Hati

Sedangkan kemurahan hati seorang pencinta,dengan penyerahan jiwanya. Jika kau berikan makananatas nama Tuhan,maka kau akan diganjar lebih banyak makanan. Sedangkan jika kau berikan jiwamu,atas nama Tuhan,maka kau akan diganjar dengan suatu Kehidupan Sejati. Sumber: Rumi:Matsnavi  I: 2235 – 36 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Kabir dan Camille Helminski. Dalam The Rumi Collection, halaman 140. Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi. Pertama kali diunggah di: https://ngrumi.blogspot.com/2019/06/kemurahan-hati-seorang-berpunya.html pada 12 Juni 2019        
Read More
Kemurahan Hati

Kemurahan Hati

Kemurahan hati seorang berpunya,dinyatakan  dengan bersedekah harta. Sedangkan kemurahan hati seorang pencinta,dengan penyerahan jiwanya. Jika kau berikan makananatas nama Tuhan,maka kau akan diganjar lebih banyak makanan. Sedangkan jika kau berikan jiwamu,atas nama Tuhan,maka kau akan diganjar dengan suatu Kehidupan Sejati. Sumber:Rumi: Matsnavi  I: 2235 – 36Terjemahan ke Bahasa Inggris olehKabir dan Camille Helminski.Dalam The Rumi Collection, halaman 140.
Read More
Aku di Sini (labbayka)

Aku di Sini (labbayka)

Foto dari Desa Berua, Kawasan Karst Rammang-rammang, akhir Juli 2018. Suatu malam, seorang lelaki merintihkan, "Yaa Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya. Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban, 'Aku di sini,' untuk semua rintihan, 'Yaa Allah-mu?' Tiada satupun jawaban datang dari 'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan 'Yaa Allah' dengan wajah suram?" Si lelaki patah-hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau. Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali dzikir-mu kepada-Nya?" Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban 'labbayka' (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari…
Read More
Apa yang kan Terjadi?

Apa yang kan Terjadi?

Jika bercerai engkau, dengan keruwetan pikiranmu, walau hanya satu jam saja; menurutmu, apa yang kan terjadi? Jika kau biarkan dirimu tenggelam, bagaikan seekor ikan kedalam lautan cinta Kami; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau hanyalah sepotong jerami; dan Kami Nyala Abadi. Jika  melompat engkau keluar, dari gubugmu yang hina untuk bersatu dengan nyala; menurutmu, apa yang kan terjadi? Telah ratusan kali kau nyatakan janji untuk berhenti membesar-besarkan diri, untuk merendah bagaikan Bumi. Jika sekali saja, engkau patuhi janjimu sendiri; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau bagaikan permata berharga, terkubur, tersembunyi di dalam kubangan lumpur. Jika engkau basuh semua ketidak-murnian dari wajahmu, yang sejatinya sangat…
Read More
Tongkat Musa

Tongkat Musa

di kebun sayur, Cibodas, Lembang, awal April 2015. Pernah kuberada di taman-Mu,di bawah pohon,yang kabulkan semua keinginan.Sepenuh diriku terbakar,sehingga kumenari tanpa musik.Kini aku sesosok bayangan,kumenari seiring cahaya Matahari:kadang kuberbaring di tanah,kadang kuberdiri-terbalik, di atas kepalaku;kadang aku memanjang,kadang aku memendek.Bagai gerakan cahaya dan bayangan,melintas permukaan bumi,kujelajahi zaman.Akulah pangeran Mesir,dan pemandu Bangsa Israil.Bagi para ulama,akulah sang Pembawa Sabda.Terkadang aku jadi Kalam.Terkadang aku jadi tongkat di tangan Musa.Terkadang aku jadi naga,membelah jalanku menerobos gurun.Jangan pernah cari Cinta,dengan bersandar pada tongkat-kayu fikiran;guna tongkat-kayu itu,hanya untuk memandu jalan orang buta.Yang kudamba hanyalah isyarat-Mu:satu anggukan dari-Mu,maka jiwaku kan bebas.Tidaklah dari sini kuberasal,aku pengelana yang singgah sejenak.Tersaruk berjalan,buta,…
Read More
Jangan Kau Sesali

Jangan Kau Sesali

menyapa sore gerimis di tepi kebun Cibodas, Lembang, April 2015. Jangan kau sesali lenyapnya kebahagianmu; ketahuilah ia akan kembali padamu dalam bentuk yang lain. Saat kanak-kanak kau berbahagia ketika kau menyusu. Ketika mulai tumbuh membesar kau bosan pada susu, dan kesenanganmu beralih pada minuman lain dan madu. Kesenangan adalah sesuatu yang esensial ia datang menyapamu melalui aneka bentuk. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain pada unsur air dan tanah-lempung, yang membentuk dirimu. Ia bisa mendadak mempertontonkan keindahannya pada butir air hujan, lalu ia merasuki pokok mawar, dan keanggunan kecambahnya ketika bibitnya bangkit dari tanah. Ia bisa datang dari…
Read More