Air Kehidupan

Foto oleh Mohamed Nohassi on Unsplash

Semua hal,
terkecuali cinta kepada yang Maha Indah,
walaupun tampak manis bagai gula,
sebenarnya membuat jiwa menderita.

Apakah itu penderitaan jiwa?
Menyongsong kematian seraya tidak menggenggam
Air Kehidupan. [1]

Umumnya manusia,
menancapkan pandangan ke dua mata
mereka kepada bumi dan kematian:
seraya mereka menyimpan seratus keraguan
tentang Air Kehidupan.

Berjuanglah sehingga seratus keraguanmu
berkurang jadi sembilan puluh: bergeraklah maju
kepada Allah pada malam harinya alam ini;
karena jika engkau tertidur, sang malamlah
yang akan meninggalkanmu.

Di tengah gelapnya malam,
carilah Siang yang terang:
ikutilah Akal Sejati yang menelan kegelapan.

Di balik hitamnya jubah malam,
yang sewarna kejahatan,
terdapat banyak kebaikan:
Air Kehidupan itu pasangan kegelapan.

Tapi bagaimana mungkin mengangkat kepalamu
dari beratnya kantuk, ketika engkau tebarkan
seratus benih kemalasan.

Jika mendengkur bagaikan mati,
dan matinya makanan yang haram dijadikan sahabat,
maka engkau bagaikan pedagang yang tertidur,
sementara sang malam menjadi pencuri
yang membuatmu bangkrut.

Catatan

Konon “Air Kehidupan” dijaga oleh Khidr as, sang tokoh suci lintas-zaman.

Dia melintasi zaman, menyiapkan para Guru Sejati pada zaman yang berbeda-beda dan mempercayakan “Air Kehidupan” itu sebagai perangkat sang Guru Sejati yang tengah bertugas.

Setiap Guru Sejati hidup dan bertugas dalam masa mereka masing-masing dan pada
wilayah yang telah ditentukan.

Air ruhaniah itulah yang dipakai seorang Guru Sejati untuk mentahirkan jiwa para muridnya, membangkitkan kembali jiwa mereka, yang sebelumnya praktis berada dalam keadaan “semaput” atau “tida mati tidak pula hidup” akibat dosa dan kelalaian mereka.

Diminumkannya air itu oleh Sang Guru kepada jiwa murid-muridnya berdampak kepada kepahaman mereka akan pengetahuan Ilahiah.

Mereka yang telah mereguknya, akrab dengan banyak kebaikan dibalik hitamnya jubah malam, walau hitamnya itu sewarna dengan kejahatan. Mereka menegakkan malam dengan shalat dan dzikir serta mohon ampunan-Nya: inilah penawar kejahatan. Demikianlah serba sedikit yang penerjemah ketahui tentang “Air Kehidupan”.

Dan Allah menurunkan air dari langit lalu dengannya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat bagi kaum yang mendengarkan.
(QS [16]: 65)

Sumber:

Rumi: Matsnavi,  I: 3684 – 3693.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama diunggah di:
https://ngrumi.blogspot.com/2009/10/air-kehidupan.html
pada 14 Oktober 2009.

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *