Beranda – Salin

Salah Mengeluh

Salah Mengeluh

Nurul bersama ikan Papakullu, di pantai Tope Jawa, 6 Agustus 2010 Seorang hamba, yang tengah dirundung kesulitan, mengeluh, dengan berbagai cara,  kepada Rabb-nya. Dan Rabb berkata, "bukankah dengan semua derita dan sakitmu engkau menjadi taat dan berdo'a dengan berendah-hati kepada-Ku; Seharusnya yang engkau keluhkan adalah semua kelimpahan yang engkau terima,  yang menyebabkan engkau menjauh dari pintu-Ku." Sejatinya, musuhmu adalah obat bagimu: dia ramuan-penyembuhmu,  dia hadiah untukmu,  dia yang menguasai hatimu; karena dia, engkau bergegas ber-khalwat bersama Rabb-mu dan sepenuh-diri berusaha mencari Rahmat-Nya. Sumber: Rumi: Matsnavi  IV: 91 - 95 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi. Pertama kali diunggah di: https://ngrumi.blogspot.com/2010/10/salah-mengeluh.html pada 18…
Read More
Tersibukkan Urusan Dunia

Tersibukkan Urusan Dunia

Senyum si bayi, RSAI Bandung, 20 September 201 Takdir itu bagaikan Singa,yang menyeret diri kita, yang sedang tersibukkan urusan dunia,menuju ke hutan kematian. Karena takut miskin,orang menceburkan diri ke dalam lautan dunia,sampai nyaris tenggelam. Jika yang mereka takuti adalah Dia,yang menciptakan bagi mereka sedikit kemiskinan, [1]maka harta-karun akan muncul dengan sendirinya.  [2] Karena takut akan bala-bencana,orang malah tenggelam dalam inti dari bala-bencana:dalam mencari kemegahan penghidupan di dunia,mereka kehilangan kehidupan sejati. Catatan: [1] QS [2]: 155 [2] Harta karun: Sesuatu yang disimpan dalam inti qalb insan, dan dijaga dengan pagar syariah para nabi, lihat QS [18]: 82. Sumber:  Rumi: Matsnavi  III 2204 -…
Read More
Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Foto: pertama kali si bayi ke rumah Aki, di Kadungora, 13 Agustus 2010 Aku seorang pencinta,dan dari cinta-Nya,aku tak menghindar. Aku seorang ksatria,dan dari medan perang,aku tak menghindar. Layaknya seekor singa,kuserang para singa lain.Tapi bagai seekor rubah,dari jepitan kepungan,aku tak menghindar. Walaupun lengkung lelangit tujuanku,dari jebakan alam-dunia,aku tak menghindar. Walaupun aku ini obat bagi bermacam penyakit,tapi dari rasa-sakit orang lain,aku tak menghindar. Kuikuti para nabi dengan seluruh jiwaku,tapi dari rekan yang jahat,aku tak menghindar. Aku hidup dalam wadah kecil,bernama kehidupanku ini;aku masih tinggal disini, karena jiwaku tak menghindar. Satu-satunya sebab diterpanya akuoleh anak-panah lirikan-Nya, adalah karena dari anak-panahyang berasal dari busur yang…
Read More
Semuanya Beringsut dengan Enggan di Jalan Ini, kecuali…

Semuanya Beringsut dengan Enggan di Jalan Ini, kecuali…

Foto: Antón Jáuregui on Unsplash Sang Nabi saw, berkata,para ahli surga itu lemah dalam berdebat karena keagungan pencapaian mereka; Karena sempurnanya kehati-hatian mereka dan menganggap rendah diri sendiri, bukan karena lemah-akal, pengecut atau lemah-iman. Dengan memberikan keuntungan kepada lawan mereka,diam-diam mereka mendengar hikmah ayat "... dan kalau tidaklah terdapat disana para lelaki beriman ..." [1] Maka, tidak menyentuh kaum kafir yang tercela itu menjadi suatu tugas, demi membebaskan kaum beriman. Bacalah kisah perjanjian Hudaibiya: "... adalah Dia yang menahan tanganmu dari mereka..."; dari sabda itu pahamilah keseluruhan kisah. [2] Bahkan dalam kemenangan, sang Nabi saw, memandang dirinya sendiri dikendalikan oleh buhul-tali Keagungan Ilahiah. (Beliau saw, bersabda,) "Bukanlah aku tertawa…
Read More

Yang Satu Itu

foto oleh mehdi el-marouazi dari unsplash Dan seseorang berkata, "Aku telah melupakan sesuatu."Sesungguhya,  hanya satu hal saja di dunia ini, yang tidak boleh engkau lupakan!Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi  melupakan yang satu itu—maka tiada sesuatu pun telah engkau capai.Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim sang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan satu tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa.Demikianlah, manusia diutus…
Read More
Khazanah Tersembunyi

Khazanah Tersembunyi

Di dalam Masjid Demak, foto oleh hs, 2014 "Wahai Rabb," Nabi Dawud as, bertanya,"Karena Engkau sedikitpun tidak membutuhkan kami, maka jelaskanlah mengapa Engkau ciptakan kedua alam?"   [1]Rabb menjawab,"Wahai insan,Aku adalah sebuah khazanah tersembunyi,  Kucinta jika khazanah kasih-sayang dan kepemurahan diungkapkan.   [2]Kutampilkan sebuah cermin:bagian mukanya adalah qalb,bagian belakangnya adalah alam dunia;Jika bagian mukanya tak engkau ketahui,maka bagian belakangnya tampak lebih baik."  [3]Jika jerami masih bercampur dengan tanah-liat,bagaimana mungkin cermin dapat berfungsi.Ketika engkau pisahkan jerami dari tanah-liat,cermin menjadi jernih.Buah-anggur tidak berubah menjadi minuman,seandainya tidak diragikan di dalam guci;Jika ingin qalb-mu tumbuh cemerlang,perlu engkau lakukan sedikit upaya.Kepada jiwa yang keluar dari tubuh,berkata Sang Raja: "Engkau datangsebagaimana engkau bertolak:dimanakah…
Read More

Cermin bagi Sang Elok

Seorang lelaki menempuh perjalanan yang jauhuntuk mengunjungi sahabat kentalnya, Jusuf, sang nabi, as.Setelah beramah-tamah, Jusuf bertanya kepada kawannya itu,apa gerangan oleh-oleh yang dibawa dari negerinya,sebagai hadiah.Sang sahabat menjawab:"Telah kurenungkan dalam-dalam, apa gerangan hadiahyang pantas untukmu, sahabatku.Apa yang kau perlukan, sementara kutahu, semua hal telah kau miliki.Tak ada seorang pun yang lebih elok daripadamu di dunia ini;karenanya kubawa untukmu sebuah cermin sederhana.Setiap kali kau memandangnya, akan kau lihatbayangan wajahmu yang sempurna.Engkaulah perwujudan keindahan."Apakah mungkin ada sesuatu yang diperlukan oleh Dia,yang Maha Agung?Bukankah segala sesuatu ciptaan adalah milik-Nya.Yang Dia kehendaki adalah qalb insan yang jernih,yang di dalamnya Dia dapat melihat bayangan-Nya sendiri.…
Read More
Dzun-Nun, Sang Pemilik “Nun”

Dzun-Nun, Sang Pemilik “Nun”

Foto oleh HS – Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda – 7 Juni 2015 Kujumpai Yunus,tengah duduk dia sendirian,di tepi pantai samudera cinta."Bagaimana kabarmu?" ku bertanya. Dan dia menjawab dengan caranya yang khas:"Di dalam samudera aku menjadi makanan ikan,lalu aku melengkung bagai huruf 'nun'sampai aku sendiri menjadi Dzun-Nun." Sumber: Rumi: Divan 1247,Dikutip oleh Annemarie Schimmel dalam "Mystical Dimension of Islam," hal 416Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumiTerjemahan ini pertama kali dipublikasikan di Facebook FanPage ngRumi pada 9 April 2016.
Read More
Datang Semata untuk Bersaksi

Datang Semata untuk Bersaksi

di Panenjoan, Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat – 2016 Kehadiran kita di ruang sidang Sang Hakim ini [1]untuk membuktikan kebenaran pernyataan kita,"kami bersaksi;" ketika dalam Perjanjian itu kita ditanyai, "bukankah Aku Tuhanmu?" [2]Karena kita telah membenarkan,maka dalam persidangan ini ucapandan tindakan kita menjadi saksi dan buktibagi kesepakatan itu.Ruang sidang Sang Hakim bukanlah tempat untuk membisu.Bukankah kita datang ke sini untuk memberikan persaksian?Wahai saksi,berapa lama lagi engkau diperiksadi ruang sidang Sang Hakim?Segeralah berikan pernyataanmu.Engkau telah dipanggil ke sini,dan telah datang engkau, [3]semata untuk bersaksi.Lalu mengapakah engkau bersikukuh diam?Di ruang tertutup ini engkau ikut menutup mulutmaupun tanganmu. [4]Kecuali engkau berikan pernyataan itu,wahai saksi, bagaimana caranyaengkau akan keluar dari sidang…
Read More
Kebajikan Air

Kebajikan Air

Maribaya, 2012. Diturunkan air berbentuk hujandari langit penuh bintang,[1]agar ia membersihkan kotorandan ketidak-murnian. Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci. Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor ––sedemikian rupa[2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan–– Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: di sanaHakikat Air memurnikannya kembali.[3] Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,[4]panjang menjuntai. Bertanya Bumi kepadanya, "Ke mana saja engkau pergi?" Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini,…
Read More