Diturunkan air berbentuk hujan
dari langit penuh bintang,[1]
agar ia membersihkan kotoran
dan ketidak-murnian.
Pandang lah bagaimana air
membasuh ketidak-sucian;
dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan
air itu sendiri dan ketidak-murniannya.
Tak diragukan lagi,
Allah Maha Tinggi itu paling Murni
dan Suci.
Ketika air memerangi ketidak-murnian
dan menjadi kotor ––sedemikian rupa[2]
sehingga tak bisa lagi ia membersihkan––
Allah Maha Penyayang membawanya
ke Samudera Kebenaran: di sana
Hakikat Air memurnikannya kembali.[3]
Tahun berikutnya,
dia akan datang kembali,
memakai jubah yang bersih,[4]
panjang menjuntai.
Bertanya Bumi kepadanya,
“Ke mana saja engkau pergi?”
Dan dia menjawab,
“Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis.
Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini,
Lalu aku dimurnikan.
Dipakaikan padaku
jubah kehormatan.
Lalu kembali aku ke Bumi.”
“Kemari, menghampirlah kemari,
wahai semua yang kotor:
diriku kini telah mengambil sesuatu
dari sifat Allah,
Akan kuterima kotoranmu
dan kan kuganti dengan kesucian
bagaikan digantinya setan dengan malaikat.
Dan ketika diriku terkotori,
aku kan pergi ke tempat di Langit itu,
ke sumber semua kemurnian.
Akan kutanggalkan semua pakaian kotorku,
dan Dia akan kembali memberiku jubah
kehormatan yang murni.
Pada apa yang kukerjakan,
Dia lah yang bekerja.
Dan yang harus dipuji adalah Allah:
Rabb, Tuhan, semesta alam-alam.”[5]
Jika tak ada dosa dan salah kita
takkan air dimuliakan.
Kerja air itu bagaikan orang
yang mengambil sekantung emas,
lalu berkeliling ke mana-mana, seraya
bertanya, “siapakah yang sedang tak berharta?”[6]
Ia tercurah pada tanaman yang sedang tumbuh,[7]
atau membersihkan wajah yang kotor.[8]
Atau dipanggulnya kapal,
yang sedang tak berdaya
di atas kepalanya.[9]
Ratusan-ribu jenis obat
terkandung di dalamnya;
karena semua jenis obat
ditumbuhkan olehnya.[10]
Inti dari semua mutiara[11]
dan jiwa dari semua biji[12]
dimurnikan dalam aliran air
bagaikan pasien disembuhkan di klinik.
Terdapat nutrisi di dalamnya
bagi para yatim dari Bumi
dan ada gerakan darinya
bagi semua yang telah kering-kerontang
dirantai dan terpenjara.
Ketika batas kemampuannya terlewati
ia menjadi kotor,
ia lelah: seperti kita semua,
di Bumi.
Ketika air telah menjadi kotor,
ia memohon pertolongan kepada Allah
yang Maha Agung Maha Terpuji.
Dari inti dirinya,
naik lah sebuah permohonan menyayat:
“Wahai Tuhanku,
apa-apa yang sudah Kau anugerahkan padaku
telah semuanya kuberikan,
kini aku bagaikan seorang pengemis fakir.
Telah kutebarkan semua pemberianmu
kepada mereka yang murni atau pun kotor.
Wahai Raja sumber semua kebaikan,
masih adakah tambahan?”[13]
Bersabda Tuhan kepada awan,
“Bawa lah air ke sumber kebahagiaan;”
dan kepada matahari,
“tarik lah air ke atas.”
Tuhan menuntunnya melalui berbagai aliran
sampai dia mencapai Samudera tak-terhingga.
Air yang kubahas ini
adalah ibarat bagi jiwa para waliyullah,
yang menjadi pembersih bagi dosa
dan kesalahanmu.[14]
Ketika ia tercemari
karena mencuci kotoran para penghuni Bumi,
ia kembali ke Langit
menghadap sang Pelimpah Kemurnian.
Lalu datang kembali,
mengenakan jubah kehormatan,
ia turun membawa pengajaran,
dari sumber mulia itu,
tentang kemurnian Allah
yang Maha Meliputi.
Ia mensucikan tanpa debu,[15]
ia meluruskan arah para pencari kiblat[16]
tanpa perlu ditanya.
Ia melemah karena bercampur-baur
dengan manusia.[17]
Karena itu ia merindu perjalanan
agar disegarkan kembali
(bagai ucapan Rasulullah): ‘Wahai Bilal,
segarkan lah kami;[18]
Wahai Bilal yang merdu suaranya,
naik lah ke atas menara
dan lantunkan panggilan keberangkatan
sebuah perjalanan.’[19]
Jika sungguh tegak sebuah shalat,[20]
melesat jiwa dalam sebuah perjalanan.
Karena itu, ketika kembali
ia mengucapkan salam.[21]
Ujaran ini memakai ibarat
sebagai perantara;
itu yang diperlukan awam
agar dapat mengerti.
Tanpa ada yang memperantarai panasnya api
tak ada yang bisa masuk ke dalamnya;
kecuali seekor salamander.[22]
Karena engkau bukan seorang Ibrahim,[23]
kamar-mandi uap yang panas itu
bagaikan seorang utusan bagimu,
dan air lah yang menjadi pemandu untukmu.
Kepuasan sepenuhnya berasal dari Rabb,
tapi manusia yang terbuat dari tanah
takkan puas tanpa diperantarai sepotong roti.[24]
Rabb itu Maha Indah,
tapi manusia tak mampu memahami
keindahan tak-terhingga,
tanpa diperantarai indahnya jannah.
Jika raga tak lagi menjadi perantara
yang menengahi,
maka akan dilihatnya rembulan purnama
menyala di dadanya;[25]
tanpa ditutupi hijab lagi,
bagaikan seorang Musa.[26]
Kebajikan air menyaksikan
bahwa hakihat di dalam dirinya
adalah limpahan Rahmat Allah.
Catatan:
- [1] Dari langit pertama, langit alam dunia.
- [2] “Menjadi kotor,” adalah kondisi air setelah menjadi sarana berwudhu seorang muslim saat sang muslim akan bershalat. Pada tataran yang lebih dalam, Nicholson menerangkan, bahwa jiwa seorang waliyullah itu murni seperti air suci; dan bagaimana ketika terkotori karena persentuhan dengan dosa manusia, lalu kemurniannya diperbarui dengan melebur kepada Tuhan.
- [3] “Hakikat Air:” Dia yang Maha Suci dan Mensucikan.
- [4] Jubah takwa, pakaian takwa, yang disematkan kepada jiwa yang bertakwa.
- [5] Alhamdulillahir-rabbil-alamiin. (QS [1]: 2)
- [6] Menjadi sarana dalam menebarkan Rahmat-Nya.
- [7] Secara lahiriah menyuburkan tanaman. Arti pada lapisan yang lebih dalam: menaikkan tingkat atau tataran jiwa para manusia (yang diasuh sang wali).
- [8] Secara lahiriah, bagian dari rukun berwudhu. Arti pada lapisan yang lebih dalam: memutihkan wajah, membantu membersihkan dosa yang semula mengotori kalbu pada manusia.
- [9] Membantu mengangkat beban mereka yang tengah berjuang melawan keraguan dan keputus-asaan.
- [10] “… dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup …” (QS [21]: 30)
Dari “Air suci” yaitu jiwa sang wali ditumbuhkan berbagai obat penyembuh aneka macam penyakit pada jiwa manusia. - [11]“Mutiara,” Khazanah Tersembunyi yang pada diri insan yang telah berhasil ditemukan dan diejawantahkan.
- [12]“Bibit,” Khazanah Tersembunyi pada diri insan yang masih tersembunyi di inti hatinya.
- [13]“Masih adakah tambahan?” lihat QS [50]: 30.
- [14] Jiwa waliyullah menjadi sarana Allah untuk mensucikan dosa para makhluk yang bertaubat.
- [15] Bandingkan dengan cara ber-tayamum, berwudhu dengan debu saat air tiada. Jiwa para waliyullah membantu mensucikan dosa pada hati manusia tanpa perlu dibantu sarana lain.
- [16] Membantu para pencari agar menuju Wajah-Nya semata.
- [17] Seperti air yang menjadi kotor karena dipakai membasuh, demikian pula jiwa para waliyullah yang melemah karena membasuh dosa para manusia.
- [18] Sahabat Bilal, muadzin Rasulullah saw.
- [19] Adzan, panggilan untuk menghadap kepada-Nya.
- [20] Shalat itu mi’raj-nya kaum yang beriman paripurna.
- [21] Salam, tanda kembali dari perjalanan menghadap, kembali dapat berinteraksi dengan makhluk.
- [22] “Salamander,” ibarat untuk para nabi, para waliyullah, orang suci yang hidup dalam api ujian Allah.
- [23] “… Wahai api, jadi lah sejuk dan jadi lah keselamatan bagi Ibrahim.” (QS [21]: 69)
- [24] Aspek raga dari insan, yang berasal dari tanah, hanya dapat dipuaskan oleh sesuatu yang berasal dari Bumi pula.
- [25] Terang cahaya iman.
- [26]“Dan masukanlah tangamu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih bersinar…” (QS [27]: 12) adalah salah satu tanda kenabian Musa as.
Di sini Rumi membantu menerangkan bahwa putih terangnya tangan nabi Musa setelah menyentuh dadanya merupakan sedikit isyarat yang diizinkan-Nya menjasad dari putih cemerlangnya cahaya iman di dalam dada sang nabi.
Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 199 – 235
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Ibrahim Gamard dan Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi,
dipublikasikan pertama kali pada 29 April 2014 di: https://ngrumi.blogspot.com/2014/04/kebajikan-air.html

Alhamdulillah.
Terima kasih Mas Herman.
Alhamdulillah.
Iya, ini sebuah catatan belajar.
Semoga berguna untuk belajar kawan-kawan semua.