Beranda – Salin

Jalan yang Kau Cari

Jalan yang Kau Cari

Foto: Magelang, Januari, 2026 Jalan yang kau cari? Kau tengah duduk di tepinya.Kau cari rembulan, tapi terbutakan oleh sinarnya.Mengapa mencari keindahan, yang bagai wajah Yusuf?Jika kau menjadi Cinta Sejati: engkaulah Yusuf. Sumber:Rumi: Rubaiyat, F#1714Penerjemahan ke Bahasa Inggris oleh Zara Housmand.Penerjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Read More
Memandang kedalam Dirimu Sendiri

Memandang kedalam Dirimu Sendiri

Cukang Rahong, 2015 Ketika syaithan menengok ke sekitarnya,dan didapatinya ada orang baik,langsung dia merasa sakit,karena iri-dengki;Karena setiap yang terkutukdan tumpukan kayu bakarnya telah hangustak sudi melihat lilin orang lain dinyalakan.Perhatikan dan teruslahmemperbaiki kelemahan dirimu.Sehingga kebaikan orang laintak lagi menyakitimu.Mohonlah agar ditanggalkan-Nya iri-dengkimu,sehingga dialihkan-Nya engkaudari memandang keluar diri,kepada ketekunan didalam dirimu sendiri;semoga sedemikian rupa engkau terserap,sehingga perhatianmu tak lagi berpaling. Sumber:Rumi: Matsnavi IV 2678 - 2682Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh R. A. Nicholson.Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Read More

Sesuai Ciri Masing-masing

Kucing milik Sri, namanya Roro Dyah Gembili Nuh a.s, terus-menerus menyeru umatnya kepada Allahselama sembilan-ratus tahun;tetapi, hari demi hari,penolakan mereka semakin meningkat. Apakah pernah dia menarik kembali seruannya?Apakah lalu dia berpangku-tangan, menyepimasuk gua? (Dia a.s. seperti berkata:) “apakah sebuah karavantak melanjutkan perjalanan karena gonggongandan dengkingan anjing? Pada malam purnama-penuh,apakah raungan anjing dapat menundaperjalanan rembulan?” Rembulan memantulkan cahayanya;anjing menggonggong:setiap hal berlangsung sesuai denganciri khasnya masing-masing. Sumber: Rumi: Matsnavi V 10 -14.Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi.
Read More

Hanya Harapan yang Diperbolehkan Mengetuk Pintu

seorang nelayan berjuang di senja pantai Ayah, 3 juni 2012 Di dalam hati mereka, para Nabi bertanya: “Sampai kapan kami terus menyeru dan menasehati si fulan dan si fulanah? Sampai kapan kami harus membentuk sepotong besi dingin? Sampai kapan kami harus terus membisiki werangka yang kosong ini?” Setiap gerakan makhluk berlangsung karena ketetapan dan penunjukan Ilahiah: tajamnya gigitan berlangsung karena panasnya rasa-lapar di perut. Jiwa Pertama mendorong dan jiwa ke dua merespon: berubahnya bau ikan dimulai dari kepala, bukan dari ekornya. Kenalilah ini, dan tetaplah melesat bagai anak-panah, karena Allah telah bersabda: “Sampaikanlah;” tidaklah mungkin menghindar dari melakukannya. Dan tidaklah…
Read More

Tinggalkanlah Kemarahanmu

Seorang lelaki menghampiri Isa ibn Maryam, dan bertanya, "Diantara semua yang tercipta, apa yang paling berat dipikul?" Beliau a.s menjawab, "yang paling berat adalah murka Allah; yang kepada hal itu: bukan saja kita, tapi bahkan neraka pun gemetar." "Dan apakah perlindungan kepada murka Allah itu?" Berkata Isa ibn Maryam, "tinggalkanlah segera kemarahanmu." Sumber: Rumi, Matsnavi IV: 113-115. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.  
Read More
Matilah Sebelum Engkau Mati

Matilah Sebelum Engkau Mati

Nurul belajar pegang bayi Sri, Juni 2011 [Mengenai sabda Rasulullah saw, ‘Matilah sebelumengkau mati:’ “Wahai sahabat, matilah sebelumengkau mati, jika yang paling engkau kehendakiadalah hidup; karena dengan mati seperti itu Idris a.s.menjadi seorang penghuni al-Jannah terlebih dahuludaripada kita semua."] Engkau telah banyak menderita, tetapi engkau masih tetap terhijab, karena kematian itu suatu pokok yang mendasar, dan engkau belum mencapainya. Deritamu takkan berakhir sampai engkau mati: engkau tidak dapat menjangkau atap tanpa menyelesaikan tangga panjatan. Walau hanya tersisa dua buah, dari seratus anak-tangga, sang pemanjat yang telah keras berjuang, tetap saja terhalang dari menjejakkan kaki di atas atap. Walau tambang hanya kurang satu dari seratus depa, bagaimanakah…
Read More
Perhatikanlah

Perhatikanlah

djonk-creative-3s1PFrCy488-unsplash Perhatikanlah, bagaimana setiap bagian alam berlalu, dan bagaimana setiap orang tiba melalui suatu perjalanan. [1] Perhatikanlah, bagaimana setiap orang, dalam hasrat akan nafkah hariannya, tunduk menghormat kepada penguasanya. Perhatikanlah, bagaimana setiap orang, jatuh bersujud di kaki matahari, bagaikan redupnya bintang-bintang, tunduk pada terangnya sang surya. Perhatikanlah, bagaimana setiap orang bergegas, bagaikan arus mencari air, berlomba-lomba mengalir menuju laut. Perhatikanlah, bagaimana sebuah jamuan kehormatan, disiapkan dari dapur Sang Raja, untuk setiap orang, sesuai dengan kebutuhannya. [2] Perhatikanlah, bagaimana kecilnya lautan alam-dunia, bagi para pencari sejati, sehingga termuat di cangkir mereka. [3] Perhatikanlah, mereka yang nafkah hariannya wajah Sang Raja, tersenyum…
Read More

Bersama Kami: Ajakan Para Awliyya

Walaupun engkau bukan seorang pencari, ikutilah kami, ikutlah mencari bersama kami. [1] Walaupun engkau tak tahu bagaimana caranya menari dan bernyanyi, tirulah kami, bersama kami engkau akan menari dan menyanyi. [2] Bahkan seandainya engkau adalah Qarun, yang paling terkenal diantara hartawan, ketika engkau jatuh cinta, engkau akan menjadi seorang fakir. [3] Walaupun engkau seorang sultan, engkau akan menjadi seorang hamba, seperti kami. Satu lilin pada pertemuan ini, lebih bernilai daripada seratus lilin lain, cahayanya lebih terang. Apakah engkau masih hidup atau sudah mati, engkau akan kembali hidup, bersama kami. [4] Lepaskanlah rantai dari kakimu, melangkahlah ke taman mawar, mulailah tersenyum…
Read More
Mari Kita Berangkat

Mari Kita Berangkat

calligraphic-composition-in-the-form-of-a-lion-ahmed-hilmi-ink-and-watercolour-on-paper-ottoman-turkey-1913.jpg Wahai para pencinta, bangkitlah!               [1] Saatnya kita terbang ke langit, cukup sudah kita tinggal di alam ini, saatnya bertolak ke sana.   Sungguhpun indah sangat kedua taman ini,                               [2] kita lewati saja, menuju ke Sang Tukang Kebun.   Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut,          [3] layaknya arus deras, mari kita tunggang gelombang, melaju di permukaan sang Laut.   Mari kita berangkat, dari pemukiman penuh kesedihan ini,            [4] menuju…
Read More
Ketika Diusung Kerandaku

Ketika Diusung Kerandaku

Mandalasari Ketika diusung kerandaku di hari kematian, janganlah menyangka hatiku berada di alam-dunia ini. Janganlah menangisiku, dan menjerit, "kemalangan, kemalangan!" Bisa-jadi malah engkau terjatuh kedalam jebakan syaithan: itu baru kemalangan. Ketika engkau lihat jenazahku, janganlah engkau berseru, "perpisahan, perpisahan!" Pertemuan dan penyatuan adalah milikku saat itu. Ketika engkau masukkan aku ke liang lahat, janganlah engkau ucapkan, "selamat tinggal, selamat tinggal!" Karena kubur bagiku hanyalah selembar hijab, yang menyembunyikan pelukan al-Jannah. Setelah diturunkan ke lubang, tataplah kebangkitan; Tidaklah ditenggelamkan itu menyakiti matahari dan rembulan. Tampak bagimu ia tenggelam, padahal itu suatu kebangkitan: Bagimu kubur adalah penjara, padahal itu pembebasan jiwa. Bukankah…
Read More