Perbedaan Pendapat Mengenai Bentuk Gajah

Foto oleh Tijs van Leur di Unsplash
Disebutnya nama Musa, telah menjadi sebuah rantai
yang membelenggu pikiran para pembacaku,
mereka pikir ini adalah cerita-cerita 
yang hanya terjadi dahulu kala.

Disebutkannya Musa hanya berfungsi sebagai topeng,
tetapi cahaya Musa adalah persoalan mutakhir,
wahai sahabatku.

Musa dan Fir’aun itu di dalam dirimu:
engkau mesti mencari pihak-pihak yang berlawanan ini
di dalam dirimu-sendiri.

Pembangkitan Musa akan terus berlangsung
sampai Hari Kebangkitan: Cahaya itu tidak berbeda,
walaupun lampunya berlain-lainan.
Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu,
tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana.

Jika engkau terus memandang kaca lampu,
engkau akan bingung, karena dari kaca
munculah sejumlah keragaman.

Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya,
engkau akan terbebas dari keragaman
dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas.

Dari tempat yang menjadi obyek pandangan,
wahai engkau yang merupakan hakikat keberadaan,
dari sanalah munculnya perbedaan antara seorang yang
beriman sejati dengan seorang Zoroaster,
dan dengan seorang Yahudi.

Seekor gajah ditaruh dalam sebuah ruangan yang gelap:
beberapa orang Hindu membawanya untuk dipamerkan.

Banyak orang datang untuk melihatnya,
semuanya masuk ke dalam kegelapan.

Karena melihatnya dengan mata tidaklah mungkin,
setiap orang merabanya, di tengah kegelapan,
dengan telapak tangan masing-masing.

Orang yang tangannya meraba belalainya berkata:
“Makhluk ini seperti sebuah pipa air.”

Bagi orang yang tangannya menyentuh telinganya,
dia tampak seperti sebuah kipas.

Orang yang lainnya lagi, yang memegang kakinya,
berkata: “Menurutku bentuk gajah itu seperti sebuah pilar.”

Yang lainnya, yang mengusap punggungnya, berkata:
“Sesungguhnya, gajah ini seperti sebuah singgasana.”

Demikianlah, ketika seseorang mendengar (penjelasan
mengenai sang gajah), dia memahaminya (hanya) sesuai
dengan bagian yang disentuhnya saja.

Berdasarkan (beragamnya) yang menjadi sasaran pandangan,berbeda-bedalah pernyataan mereka:
satu orang mengatakannya bengkok seperti “dal,”
yang lainnya mengatakan lurus seperti “alif.”

Seandainya tangan masing-masing orang memegang lilin,
tiada perbedaan di dalam kata-kata mereka.

Pandangan persepsi-inderawi itu hanyalah bagaikan
telapak tangan; tidaklah telapak tangan itu mempunyai
kemampuan untuk meraih keseluruhan gajah.

Mata yang memandang Lautan adalah suatu hal,
sedangkan yang memandang buih itu,
suatu hal yang lain lagi:
tinggalkan buih dan lihatlah dengan mata bagi Lautan.

Siang-malam, tiada hentinya gerakan arus-buih 
dari Lautan: engkau menatap buih, 
tetapi tidak Lautnya.

Kita bertumbukan satu sama lain, 
bagaikan perahu: mata kita gelap, 
sungguhpun kita berada di air yang jernih.

Wahai engkau yang telah tertidur di dalam perahu raga,
engkau telah melihat air,
tetapi lihatlah kepada AIR dari air itu.

Air itu terhubung dengan AIR yang menggerakannya:
jiwa itu memiliki RUH yang memanggilnya.

Dimanakah Musa dan Isa 
ketika Sang Matahari menyiramkan air 
kepada ladang benih ciptaan?

Dimanakah Adam dan Hawa,
ketika Tuhan memasangkan tali kepada busur ini?

Lisan ini juga kelu;
lisan yang tidak kelu itu dari Sebelah Sana.

Jika dia berbicara dari sumber itu,
kakimu akan gemetar;
tapi jika dia tidak membicarakan itu,
sungguh malang nasibmu!

Dan jika dia berbicara dengan memakai ibarat,
wahai anak-muda,
engkau akan terhijab oleh bentuk-bentuk itu.

Engkau tertanam ke bumi, bagaikan rumput:
engkau mengangguk-anggukkan kepalamu
sesuai hembusan angin,tanpa kepastian.

Tetapi engkau tak memiliki kaki,
yang dapat membuatmu beranjak,
atau cobalah menarik kakimu keluar dari lumpur ini.

Bagaimana mungkin engkau menarik kakimu?
Hidupmu itu dari lumpur ini: luar-biasa beratnya
bagi hidup seperti milikmu untuk berjalan.

(Tetapi) ketika engkau menerima hidup dari Tuhan,
wahai huruf-berirama, engkau menjadi mandiri 
dari lumpur ini, dan akan terangkat.

Ketika bayi yang semula menyusui,
disapih dari perawatnya,
dia menjadi pemakan remah dan beranjak darinya.

Bagaikan benih, engkau terikat kepada susu dari bumi:
upayakanlah untuk menyapih dirimu
dengan mencari makanan bagi qalb-mu.

Minumlah kata-kata Hikmah,
karena ia adalah cahaya yang terhijab,
wahai engkau yang tidak mampu menerima
Cahaya tanpa hijab;

Sampai engkau menjadi mampu menerima Cahaya,
wahai Jiwa; sehingga engkau mampu menatap tanpa hijab
kepada sesuatu yang (kini) tersembunyi.

Dan jelajahilah langit bagaikan bintang;
atau bahkan berkelanalah tanpa-batas,
bebas dari langit mana pun.

Engkaulah yang datang menjadi, dari ketiadaan.
Katakanlah, bagaimana caranya engkau menjadi?
Engkau tiba tanpa menyadarinya.

Bagaimana caranya engkau datang,
tidaklah engkau mengingatnya,
tetapi akan kami lantunkan sebuah isyarat.

Lepaskanlah nalarmu, dan perhatikan!

Tutuplah telingamu, lalu dengarlah!

Tidak, takkan kuceritakan padamu,
karena engkau masih mentah:
engkau masih di musim semimu,
belum lagi engkau sampai ke bulan Tamuz.

Wahai makhluk mulia,
alam dunia ini bagaikan sebatang pohon,
kita bagaikan buah setengah-matang pada pohon itu.

Buah setengah-matang melekat erat ke dahan,
karena selama mereka belum matang,
tidaklah mereka sesuai bagi istana.

Ketika mereka telah matang dan menjadi manis,
sambil menggigit bibirnya,
mereka sekedar menempel saja ke dahan.

Ketika mulutnya telah dibuat manis oleh kesentosaan,
kerajaan alam dunia ini menjadi hambar bagi sang Lelaki Sejati.

Berpegangan erat, dan melekatnya jiwa seseorang
begitu kuatnya adalah tanda ketidak-matangan:
sepanjang engkau itu merupakan embrio,
nutrisimu dari meminum-darah.

Banyak hal yang lainnya lagi,
tetapi Ruh al-Quds akan menceritakan kisah itu,
tanpa aku.

Tidak,
bahkan engkau akan mengisahkannya 
ke telingamu sendiri;
tanpa aku, ataupun yang selain dari Aku;
wahai engkau yang seperti Aku.

Seperti ketika engkau tertidur,
engkau beranjak dari dirimu
kepada hadirat dirimu-sendiri:

Engkau mendengar dari dirimu-sendiri,
dan menganggap bahwa seseorang telah menceritakan
kepadamu di dalam mimpi.

Wahai sahabat,
engkau bukanlah “engkau” yang tunggal;
tidak, engkau adalah langit dan laut yang dalam.

“Engkau”-mu yang perkasa, sembilan-ratus kali lipat,
adalah lautan dan tempat tenggelamnya seratus “engkau.”

Sebenarnya,
apakah yang dimaksud dengan istilah jaga dan tidur?

Diamlah,
karena Tuhan lah yang lebih tahu apa yang benar.

Diamlah,
agar engkau dapat mendengar dari Yang Bersabda,
apa-apa yang tidak akan terdapat dalam pernyataan
atau dalam penjelasan.

Diamlah,
agar engkau dapat mendengar dari Matahari,
apa-apa yang tidak tercantum dalam buku
atau dalam pemberian.

Diamlah,
agar Jiwa yang berbicara bagimu:
di dalam Bahtera Nuh tinggalkanlah berenang!

Sumber:

Rumi: Matsnavi III, 1251 – 1307
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

By hersoe

2 thoughts on “Perbedaan Pendapat Mengenai Bentuk Gajah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *