Mari Kita Berangkat

calligraphic-composition-in-the-form-of-a-lion-ahmed-hilmi-ink-and-watercolour-on-paper-ottoman-turkey-1913.jpg
Wahai para pencinta, bangkitlah!               [1]
Saatnya kita terbang ke langit,
cukup sudah kita tinggal di alam ini,
saatnya bertolak ke sana.
 
Sungguhpun indah sangat
kedua taman ini,                               [2]
kita lewati saja,
menuju ke Sang Tukang Kebun.
 
Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut,          [3]
layaknya arus deras,
mari kita tunggang gelombang,
melaju di permukaan sang Laut.
 
Mari kita berangkat,
dari pemukiman penuh kesedihan ini,            [4]
menuju pesta pernikahan;
mari ubah wajah kita,
dari pucat-pasi,
menjadi segar merona.
 
Hati kita keras berdegup,
gemetar bagai daun dan ranting kecil
yang takut jatuh tercampak;                     [5]
mari mencari suaka
di Wilayah Terlindung.
 
Tak mungkin mengelak dari kesakitan,
selama kita dalam pengungsian,                  [6]
tak mungkin mengelak dari debu,
selama kita tinggal di padang pasir.
 
Bagai burung surgawi bersayap hijau,
dan berparuh tajam,                             [7]
mari kita jadi pengumpul gula,
bercengkerama di kebun tebu.
 
Terkurung kita oleh bentuk-bentuk,
ciptaan Sang Pencipta tak-berbentuk,
Sudah puas kita dengan semua bentuk ini,
mari menuju Dia yang tanpa padanan.             [8]
 
Bentuk-bentuk ini adalah tanda-tanda
dari Sang Pembentuk tanpa-tanda;
tersembunyi dari pandangan iblis,
mari, kita menuju kepada yang tak-bertanda.
 
Di jalan penuh ujian ini,
Cinta adalah sang pemandu,
menuntun gerak maju kita.
 
Bahkan jika ada seorang raja                    [9]
menawarkan perlindungan,
lebih selamat kita menempuh jalan
dalam jama'ah.
 
Kita bagaikan air yang menetes
dari atap yang bocor,
mari kita memancar dari atap bocor itu
dan mengalir melalui saluran-air.
 
Kita melengkung bagai busur-panah,
karena tali-busur itu
berada di tenggorokan kita sendiri,
ketika kita telah menjadi lurus,
maka kita akan melesat,
bagai anak-panah terlepas dari busurnya.       [10]
 
Meringkuk kita bagai tikus dalam lubang,
gemetar takut pada kucing;
jika kita anak-singa,
tentu kita menghampiri induk-singa.            [11]
 
Mari berjuang
agar jiwa kita sejernih cermin
yang merindukan bayangan sesosok Jusuf;
mari menghampir kepada keindahan Jusuf
seraya membawa sebuah hadiah.                  [12]
 
Sekarang, mari kita diam,
agar Sang Pemberi Perkataan
yang mengatakan semua ini;
bersama sabda-Nya,
mari kita berangkat.                           [13]

Catatan:

[1] Yang diseru disini adalah jiwa (nafs) suci para pencinta,
sebagai warga alam malakutatau “Langit” (as-sama’i).

[2] “Ke dua taman:” ke dua kategori alam ciptaan-Nya,
yang memang sangat indah, yaitu alam lahiriah maupun
alam batiniah (semesta yang tak-nampak oleh mata jasmaniah).

[3] Tentang “Laut;” Fenomena yang kita dapat inderai,
kita persepsikan, itu bagaikan gelombang laut yang sampai ke
tepi pantai (persepsi) kita.
Gelombang berderu karena tiupan angin (rih) ke
permukaan “Laut”.

“Ruku ke arah Laut,” ketundukan kepada maksud
dari penciptaan yang sampai kepada kita.

[4]  “Pemukiman penuh kesedihan:” alam dunia.

[5] “Takut” terpisah dari kehendak-Nya, lihat QS [35]: 28.

[6] Selama jiwa berada dalam raga di alam dunia.

[7] Mengingatkan pada isi sebuah hadits Rasulullah saw,
“… arwah para syuhada di sisi Allah pada Hari Kiamat
(berada) dalam rongga burung hijau yang memiliki
sarang-sarang yang bergantungan pada ‘Arsy …”

(Sunan Darimi no 2303, Sunan Tirmidzi no 1565)

[8] “… tak dapat Dia dibandingkan dengan sesuatu…”
(QS [42]: 11)

[9] Keselamatan bagi para pencari itu ada dalam
penyatuaannya dengan para ahli-taubat.
Bukan sembarang berserikat, karena
“kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
saling menzalimi satu sama lain, kecuali
orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh;
dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS[38]: 24)

[10] Dengan ibadah, raga dilatih agar menjadi “busur”
yang dapat melontarkan “anak-panah” (jiwa).

[11] “Tikus” berburu remah-remah, yaitu sasaran-sasaran duniawiah.
Sementara “Singa” memburu apa yang Allah kehendaki.

[12] Menjadi cermin, “berakhlak dengan akhlak kecintaan
Sang Khalik swt, yaitu Nabi, saw, ” atau “akhlakul-karimah.”

[13] Mari bergerak menuju “mati dari diri sendiri,”
dengan cara berlatih lebur-musnah billah. 

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 1713
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
Termuat dalam Mystical Poems of Rumi 2,
terbitan The University of Chicago Press, 1991

By hersoe

3 thoughts on “Mari Kita Berangkat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *