Musuhku Diriku Sendiri

Musuhku Diriku Sendiri

difoto Harnaka Harno, di GeoPark Ciletuh, Februari, 2016 Bukanlah aku, seperti seekor singa perkasa,mampu tundukkan musuh-musuhku.Jika kudapattundukkan diriku sendiri,cukuplah itu bagiku.Sungguhpun aku,serendah-hitam tanah,karena yang kurawatadalah sebutir bibitbernama Cinta,kan kutumbuh-kembangkanbunga lily putih di padang rumput.Ketika aku dalam gelap gulitamerintihkan perpisahan,selalu kuyakinaku akan menembus,menebarkan cahaya,di tengah gelapnya malam.Ada api bernyala dalam diriku,walau ragaku pucat dan lusuh.Karena aku akan membubung naik,bagai asap,keluar menembus penjaraku.Aku seorang anak kecil,guruku adalah Cinta,tentu guruku takkan biarkankutumbuh jadi seorang bodoh. Sumber:Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1523.Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nader Khalili,dalam Rumi: Fountain of Fire,Burning Gate Press, 1994. 
Read More
Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Kubah Hijau Masjid Nabawi di pagi sejuk Sya'ban 1445H Sang Musthafa bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku." Jadi, terang cahaya al-Mukmin berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna. Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya. Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api. Mereka yang bertakwa dengan haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan.…
Read More
Mencintai Pasangan

Mencintai Pasangan

Masjid Agung Jawa Tengah, Januari 2024 Sebenarnya, tidak ada pencinta yang mencari penyatuan, tanpa yang-dicintainya mencarinya. Sementara cinta dari sang pencinta membuatnya sekurus tali-busur, maka cinta dari yang dicintai membuatnya indah dan segar. Ketika kilat cinta bagi yang-tercinta menyambar ke hati yang ini, ketahuilah, ada cinta dalam hati yang itu. Ketika cinta kepada Tuhan telah nyaring berbunyi di hatimu, tak pelak lagi, Tuhan telah mencintaimu. Tiada suara tepukan bisa terdengar hanya dari sebelah tangan. Ketika orang yang haus mengeluh: Wahai air yang lezat... Air pun mengeluh, seraya bertanya: Dimanakah sang peminum air? Kehausan di dalam jiwa-jiwa kita adalah ketertarikan yang…
Read More
Rintihan Seruling Bambu

Rintihan Seruling Bambu

berjajar bambu di depan Bale Ihya al-Ghazali, Mandalasari,Desember 2013 Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan: "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali. Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama. Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri. Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku. Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya." Desah seruling bersumber…
Read More
Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Gambaran Nabi Ibrahim dalam api, Sumber: The Miniatures of the Zubdat Al- TawarikhMFA- The Miniatures of the Zubdat-al-Tawarikh (bilkent.edu.tr) Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia, sang Maha Pengampun, untuk memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya. Tetapi takkan sesuatu dikenali kecuali jika ada lawannya, dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan. Maka diangkatnya seorang khalifah, seorang insan pemilik qalb, agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya. Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga, dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya, yang berasal dari kegelapan. Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam: yang pertama Adam; dan lainnya Syaithan, sang penghalang jalan menuju kepada-Nya. [1] Diantara ke dua kubu ini, berlangsung…
Read More
Musuhmu yang Sebenarnya

Musuhmu yang Sebenarnya

domba siap dikurbankan Tahukah engkau siapa musuhmu yang sebenarnya? Mereka yang dibuat dari api adalah musuh dari yang dibuat dari tanah. [1] Api adalah musuh dari air dan keturunannya; demikian pula air adalah musuh bagi nyalanya api. Jelasnya, api disini adalah api hawa-nafsu, yang disitu terletak akar dari dosa dan kesalahan. Api kasat-mata dapat engkau padamkan dengan siraman air, sementara berkobarnya api hawa-nafsu dapat membawamu ke Neraka. Api hawa-nafsu tak dapat diredakan dengan air, karena dia memiliki ciri Neraka, yaitu tak-pernah-puas menyiksa. Apakah obat bagi api hawa-nafsu? Cahaya Agama: cahaya keberserahdirianmu adalah sarana untuk memadamkan api kekufuranmu. Apakah yang memadamkan…
Read More
Rabb dan Dunia

Rabb dan Dunia

Photo by CARLOSCRUZ ARTEGRAFIA on Pexels.com Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: "Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi. Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa-api.  [1] Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi. Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira. Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi. Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia…
Read More
Ketika Dibuat Paham

Ketika Dibuat Paham

Ada seorang ibu, yang hamil setiap tahun, tapi tidak ada anaknya yang hidup lebih lama daripada enam bulan. Ketika mencapai tiga atau empat bulan, mereka meninggal. Sehingga sang ibu menjerit, “Wahai Tuhan, Sembilan bulan lamanya, kutanggung beban kehamilan, tapi kemudian hanya tiga bulan lamanya hidupku senang: kebahagiaanku lebih singkat daripada terbentangnya pelangi.” Perempuan itu, karena kesedihan yang amat sangat, mengeluhkan nasib malangnya kepada Lelaki-milik-Tuhan. Karena telah dua puluh orang anaknya dikubur: bagaikan jilatan api cepatnya kehancuran hidup mereka. Sampai suatu malam diperlihatkan kepadanya sebuah taman yang tak-terhingga, luas, hijau, indah, tanpa-cela sedikit pun. Kusebut “Ganjaran Mutlak” sebuah taman, karena dia…
Read More
Cahaya yang Memadamkan Api

Cahaya yang Memadamkan Api

Sebuah malam di Masjid Bulakamba, Brebes, 2020 Pada pertemuan Pengadilan Akhir,  orang-orang mukmin akan berkata: "Wahai malaikat, bukankah neraka itu suatu jalan umum, yang dilalui orang-orang mukmin dan kafir; namun mengapa kami tak melihat api dan asap dalam perjalanan kami?      Kami dapati taman dan kebun yang aman; lalu dimanakah lintasan penuh bahaya  yang dulu kami dengar?" Maka malaikat menjawab: "Kebun yang terlihat ketika kalian lalui, sebenarnya itulah neraka, namun bagi kalian tampaknya bagai taman yang indah. Karena kalian berjuang melawan hawa-nafsu dan memadamkan kobaran syahwat, demi Tuhan. Maka ia menjadi hijau dengan kesucian dan cahaya tuntunan ke arah…
Read More
Kebakaran Besar di Masa Sayidina Umar ra

Kebakaran Besar di Masa Sayidina Umar ra

Gambar oleh LoggaWiggler dari Pixabay Sebuah kebakaran besar terjadi di masa kekhalifahan Sayidina Umar ra: kobarannya menelan bebatuan layaknya api menghancurkan kayu kering. Api menelan rumah dan bangunan, melonjak tinggi sampai mengancam burung-burung dan sarang mereka. Separuh kota tertelan api; air bagai gentar dan gagap menghadapinya. Mereka yang masih bisa berfikir terus menyiramkan air, bahkan cuka, untuk memadamkannya. Sungguhpun demikian, kobaran api malah meningkat, sampai datang bantuan dari yang Tunggal, yang tak-Terbatas. Orang-orang bergegas mendatangi Umar ra, sambil berkata, "api itu sama sekali tidak dapat dipadamkan dengan air." Beliau ra. menjawab, "api itu adalah salah satu tanda dari Allah: itu…
Read More