Berpuasa: Menanti Perjamuan-Nya

Berpuasa: Menanti Perjamuan-Nya

kawan duduk di Masjid Nabawi, Februari, 2024 Ada yang terasa manis tersembunyi di balik laparnya lambung. Insan itu tak ubahnya sebatang seruling. Ketika penuh isi lambung seruling, tak ada desah: rendah atau tinggi yang dihembuskannya. Jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa, apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu. Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam Jalan dan cita-citamu. Jagalah agar lambungmu kosong. Merintih lah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb. Jagalah agar lambungmu kosong hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia layaknya sebatang seruling. Jika lambungmu selalu penuh Setan…
Read More
Apa yang kan Terjadi?

Apa yang kan Terjadi?

Jika bercerai engkau, dengan keruwetan pikiranmu, walau hanya satu jam saja; menurutmu, apa yang kan terjadi? Jika kau biarkan dirimu tenggelam, bagaikan seekor ikan kedalam lautan cinta Kami; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau hanyalah sepotong jerami; dan Kami Nyala Abadi. Jika  melompat engkau keluar, dari gubugmu yang hina untuk bersatu dengan nyala; menurutmu, apa yang kan terjadi? Telah ratusan kali kau nyatakan janji untuk berhenti membesar-besarkan diri, untuk merendah bagaikan Bumi. Jika sekali saja, engkau patuhi janjimu sendiri; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau bagaikan permata berharga, terkubur, tersembunyi di dalam kubangan lumpur. Jika engkau basuh semua ketidak-murnian dari wajahmu, yang sejatinya sangat…
Read More
Tongkat Musa

Tongkat Musa

di kebun sayur, Cibodas, Lembang, awal April 2015. Pernah kuberada di taman-Mu,di bawah pohon,yang kabulkan semua keinginan.Sepenuh diriku terbakar,sehingga kumenari tanpa musik.Kini aku sesosok bayangan,kumenari seiring cahaya Matahari:kadang kuberbaring di tanah,kadang kuberdiri-terbalik, di atas kepalaku;kadang aku memanjang,kadang aku memendek.Bagai gerakan cahaya dan bayangan,melintas permukaan bumi,kujelajahi zaman.Akulah pangeran Mesir,dan pemandu Bangsa Israil.Bagi para ulama,akulah sang Pembawa Sabda.Terkadang aku jadi Kalam.Terkadang aku jadi tongkat di tangan Musa.Terkadang aku jadi naga,membelah jalanku menerobos gurun.Jangan pernah cari Cinta,dengan bersandar pada tongkat-kayu fikiran;guna tongkat-kayu itu,hanya untuk memandu jalan orang buta.Yang kudamba hanyalah isyarat-Mu:satu anggukan dari-Mu,maka jiwaku kan bebas.Tidaklah dari sini kuberasal,aku pengelana yang singgah sejenak.Tersaruk berjalan,buta,…
Read More
Jalan Keyakinan

Jalan Keyakinan

Ketika kau tuntun aku menapaki Jalan keyakinan Kau taruh amanah di pundakku Agar ditegakkan hingga ajal. "Tak kuat aku," kadang ku menjerit, "Beban ini terlalu berat"; Bersama-Mu aku diperkuat, Agar mampu memikul tugas. Sumber: Rumi: Rubaiyat Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, 1949.
Read More
Do’a Berwujud Penghambaan

Do’a Berwujud Penghambaan

Foto oleh Dimitris Vetsikas dari Pixabay Tanggalkan permohonan yang kering dan hampa makna Tegaknya sebatang pohon, mestilah karena bibit telah disebar. Tapi bahkan jika tak kau miliki benih, karena hampanya do'amu, Tuhan akan anugerahi engkau sebatang pohon kurma, seraya bersabda, "Alangkah baiknya penghambaannya!" Lihatlah Maryam putri Imran: kerinduannya sampai ke dasar hati, tapi tak dimilikinya bibit: maka Sang Maha Indah membuat pokok kurma kering menghijau baginya.  [1] Karena wanita mulia itu setia pada-Nya, Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya. Sumber:Rumi: Matsnavi  V: 1188 - 1191Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camilledan Kabir Helminski.Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persiaoleh Yahya…
Read More

Jelas Jalan Kembali

Engkau yang cerahkan hatiku, telah pergi; tapi tak pernah berpisah: Citramu selalu dalam penglihatanku. Cintamu selalu dalam hatiku. Ku telusur pelosok bumi, siapa tahu kau berkunjung ke sana. Senantiasa kuberharap, kan jelas akhirnya, jalanku kembali ke rumah. Sumber: A.J. Arberry, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More

Engkau adalah Jalan Cinta

Foto, dari pexels-suman-saurabh-verma Engkau adalah Jalan Cinta,dan di ujung sana tampak rumahku.Engkau salah satu sosok di tengah khalayaktapi hanya Engkau yang memakai mahkota.Kulihat Engkau pada bintang-bintang,pada matahari, pada rembulan.Juga disini di padang rumput hijau,dan di seberang sana, di atas tahta. Sumber:(Rumi, Rubaiyat F#1369)Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi
Read More
Panen Obat Khusus

Panen Obat Khusus

Yang kupanen dari rasa sakitkuadalah obat khusus untukku dan kedamaian.Ku tenggelam ke titik nadir, lalu dibangkitkan:bagai pulihnya iman dari kekufuran.Ketika raga, hati dan jiwa terserak-serak,jalan menghilang.Sampai raga mencair ke dalam hati,hati mencair ke dalam jiwa,dan jiwa ke dalam cinta itu sendiri. Sumber:Rumi: Rubaiyat, F#262Penerjemah: Zara Houshmand, ngrumi.
Read More
Matilah Sebelum Engkau Mati

Matilah Sebelum Engkau Mati

https://wallpaperaccess.com/sufi [Mengenai sabda Rasulullah saw, ‘Matilah sebelumengkau mati:’ “Wahai sahabat, matilah sebelumengkau mati, jika yang paling engkau kehendakiadalah hidup; karena dengan mati seperti itu Idris a.s.menjadi seorang penghuni al-Jannah terlebih dahuludaripada kita semua."] Engkau telah banyak menderita, tetapi engkau masih tetap terhijab, karena kematian itu suatu pokok yang mendasar, dan engkau belum mencapainya. Deritamu takkan berakhir sampai engkau mati: engkau tidak dapat menjangkau atap tanpa menyelesaikan tangga panjatan. Walau hanya tersisa dua buah, dari seratus anak-tangga, sang pemanjat yang telah keras berjuang, tetap saja terhalang dari menjejakkan kaki di atas atap. Walau tambang hanya kurang satu dari seratus depa, bagaimanakah caranya air-sumur masuk ke dalam timba.…
Read More
Mari Kita Berangkat

Mari Kita Berangkat

calligraphic-composition-in-the-form-of-a-lion-ahmed-hilmi-ink-and-watercolour-on-paper-ottoman-turkey-1913.jpg Wahai para pencinta, bangkitlah!               [1] Saatnya kita terbang ke langit, cukup sudah kita tinggal di alam ini, saatnya bertolak ke sana.   Sungguhpun indah sangat kedua taman ini,                               [2] kita lewati saja, menuju ke Sang Tukang Kebun.   Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut,          [3] layaknya arus deras, mari kita tunggang gelombang, melaju di permukaan sang Laut.   Mari kita berangkat, dari pemukiman penuh kesedihan ini,            [4] menuju…
Read More