Beranda – Salin

Musuh Terbesarmu

Musuh Terbesarmu

Foto, Alexas Fotos Jika bukan karena perkasanya keakuanmu sendiri, yang telah menyergapmu dari dalam, takkan penghadang dari luar diri mampu mencelakaimu. Karena tuntutan syahwatmu, hatimu telah tersandera oleh kerakusan, cinta-dunia dan niat-buruk. Sekian lama terpenjara didalam dirimu sendiri, engkau berubah menjadi pencuri rakus, yang semakin lemah dihadapan kuasanya. Simaklah nasehat Sang Nabi nan bijak-bestari: "Musuh terbesarmu berada diantara ke dua sisimu." Sumber:Rumi: Matsnavi III: 4063 - 4066Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Nicholson.
Read More
Kau kan Mati Sendirian

Kau kan Mati Sendirian

https://wallpaperswide.com/man_watching_the_sun-wallpapers.html Telah kau cari Hidup Sejati ke seluruh dunia, tapi kau kan mati di dalam hatimu sendiri. Kau terlahir dalam pelukan yang penuh rahmat, tapi kau kan mati sendirian. Kau tertidur di tepi sebuah danau, sambil merasa haus. Kau duduki harta karun tapi kau kan mati dalam kefakiran. Sumber:Rumi: Rubaiyat, F#1601. Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star,berdasarkan terjemahan literal oleh Shahram Shiva.Dari In the Arms of the Beloved, hal 133.Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Read More

Akhirnya Ia Menetap

Dan singgahlah ke hatiku cinta kepada-Mu, lalu ia beranjak pergi, dengan riang. Sekali lagi ia datang, tinggal sejenak, lalu bertolak pergi lagi. Dengan sopan aku mengundangnya tinggal: sebentar, barang dua, tiga hari. Akhirnya ia menetap, tak pernah lagi ia ingin tinggalkan hatiku.   (Rumi: Rubaiyat,  F#362) Penerjemah:  Zara Houshmand, ngrumi
Read More

Jelas Jalan Kembali

Engkau yang cerahkan hatiku, telah pergi; tapi tak pernah berpisah: Citramu selalu dalam penglihatanku. Cintamu selalu dalam hatiku. Ku telusur pelosok bumi, siapa tahu kau berkunjung ke sana. Senantiasa kuberharap, kan jelas akhirnya, jalanku kembali ke rumah. Sumber: A.J. Arberry, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More

Mengapa Bangkit Hasadmu

Mengapa bangkit hasadmu di tengah lautan kepemurahan ini? Mengapa kau tolak datangnya kebahagiaan yang menggelombang? Tak seekor pun ikan pertahankan secangkir air bagaikan harta karun; ketika dia tahu, samudera luas tak pernah tolak kehadirannya. Sumber: A.J. Arberry, The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More

Semua Tengah Bermohon

Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemaha-kuasaan Sang Pencipta. Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin. Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain? Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya? Sumber: A.J. Arberry, The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More

Tiga Hari

Masa kecil sudah lama lewat Masa muda telah berlalu Usia senja tengah menjelang Dunia ini, segera lah lewati. Izin tinggal tiga hari, tak lebih itulah masa berkunjung; Wahai tamu, waktumu telah habis, silakan lanjutkan perjalanan. Sumber: A.J. Arberry, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More

Lupa Negeri Kelahiran

Wahai insan, kau miliki sebuah negeri di balik lelangit, tapi pada tanah dan debu kau tujukan dirimu. Telah kau hujamkan citra dirimu pada permukaan bumi; melupakan negeri yang jauh tempat kelahiranmu. Sumber: Rumi: Rubaiyat Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More

Disana, Seluruhnya Penyaksian

Jika kau miliki telinga, dengarlah pesanku dengan jelas: dengan sepenuh hati berisikan Dia, beranjaklah tinggalkan dirimu. Jika kau lihat sesuatu, diamlah, tataplah apa yang tampil dengan jernih: Satu patah kata pun tak perlu kau ucapkan disana, seluruhnya penyaksian. Sumber: A.J. Arberyy, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.
Read More