
“Jika sungguh-sungguh engkau menempuh Jalan,
Jalan akan tersingkap padamu;
dan jika sungguh-sungguh engkau lebur-musnah,
al-Haqq akan menghampir kepadamu.” [1]
“Dan jika sungguh-sungguh engkau berendah-hati,
dunia ini tak akan bisa mengurungmu;
lalu kepadamu akan diperlihatkan dirimu
bersama dengan Dirimu yang Sejati,
tanpa dirimu yang palsu.” [2]
Walaupun semua pintu keluar telah Zulaikha tutup, Yusuf tetap menemukan jalan, ketika sungguh-sungguh berusaha. Ketika Yusuf bersandar kepada-Nya, kunci bergerak, pintu terbuka, dan dia lolos. Sungguhpun tampak tak ada pintu keluar dari alam dunia, mestilah seorang pencari sekuat-tenaga berlari kesana-kemari; bagaikan Yusuf. Agar terbuka kunci dan tampak jelas gerbang, dan alam tak-beruang menjadi kediamanmu. Wahai makhluk yang malang, engkau telah hadir di sini, di alam dunia ini, pernahkah kau lihat jalan darimana engkau dahulu datang? Engkau datang dari sebuah tempat, sebuah semesta, tahukah engkau jalan kedatanganmu? Jika tak engkau ketahui, simaklah nasehat tentang jalan buntu: melalui jalan yang buntu inilah kita semua akan wafat. Ketika bermimpi, dengan mudahnya engkau berjalan kesana-kemari: tahukah engkau dimana jalan yang mengarah ke wilayah itu? Tutuplah mata-syahwatmu, dan serahkan dirimu sepenuhnya: akan kau dapati dirimu berada di wilayah kuno tersebut. [3] Tapi bagaimanakah engkau akan menutup mata-syahwatmu, sementara ke jurusan alam-dunia ini kau tatapkan seratus penglihatan yang melemahkanmu: keasyikanmu bersama mereka menjadi penutup mata bagimu. Begitu ingin engkau dikagumi orang, engkau tatapkan ke dua pasang matamu, [4] agar mendapat kemasyhuran dan kedudukan. Ketika jatuh tertidur, akan kau lihat seorang pembeli dalam mimpimu: apakah yang diimpikan seekor burung-hantu, si pembawa warta-buruk, kecuali rimba-liar? Setiap saat kau inginkan seorang pembeli merangkak kepadamu: punyakah engkau barang berharga untuk dijual? Sedikit pun tidak! Sedikit pun tidak! Jika saja kedalam hatimu dapat masuk sedikit santapan ruhaniah, [5] tentu kosong ia, akan kehendak mendapatkan pembeli dari alam-dunia. [6]
Catatan:
[1] Terdapat pada bagian pendahuluan Matsnavi V no 1105,
yang diterjemahkan Nicholson. Ditengarai bersumber dari
separuh bagian sebuah kuatrin Persia kuno,
pengarangnya tidak diketahui.
[2] Manuskrip Matsnavi yang berbeda mencantumkan separuh
bagian yang ke dua dari kuatrin Persia kuno tersebut,
diterjemahkan oleh Ibrahim Gamard.
[3] “Wilayah Kuno” daerah dimana jiwa semula lama berada
ketika dia belum dimasukkan ke dalam raga seorang manusia
(yaitu janin bayi ketika usianya 120 hari dalam rahim ibunya).
Alam tanpa raga, alam yang lebih sejati, lebih tinggi
tataran hakikat (realitas)-nya.
[4] Sepasang mata ragawi dan sepasang mata jiwa.
Berupaya lahiriah dan ruhaniah untuk mendapatkan
ketenaran dan kedudukan.
[5] Jika sedikit saja paham akan pengetahuan ruhaniah
atau kesejatian.
[6] Matsnavi bagian ini kembali terkait erat dengan
“Pembeli Sejati” (QS [9]: 121) yang diperlawankan dengan
“para pembeli dari alam-dunia;” yang kepada mereka umumnya
kita menawarkan hasrat-hasrat duniawi seperti kemasyhuran
dan kedudukan agar mereka beli (direalisasikan di alam dunia ini).
Sumber:
Rumi, Matsnavi V: 1105-1118.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Foto: “Moksa,” patung perunggu karya Nyoman Nuarta,
difoto di galeri Museum Nyoman Nuarta, Bandung, 29 Desember 2018.
Pertama kali diunggah pada Kamis, 20 Januari 2011,
di: https://ngrumi.blogspot.com/2011/01/pintu-pintu-dunia-ditutup-agar-gerbang.html