
Sejak kumulai berjalan, Engkaulah tujuan, Engkaulah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkaulah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkaulah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkaulah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkaulah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkaulah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkaulah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkaulah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkaulah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkaulah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkaulah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkaulah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkaulah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkaulah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkaulah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkaulah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpiku. Ketika kucari rima bagi puisiku, Engkaulah yang menyenandungkannya. Gambaran apa pun yang kau coba lukiskan, Dia mengatasi itu. Setinggi apa pun kau naik, Dia lebih tinggi daripada ketinggianmu. Diamlah, dan taruhlah bacaanmu: biarkan Dia yang jadi kitabmu. Diamlah, karena seluruh enam arah adalah Cahaya-Nya. Dan ketika kau berhasil lewati seluruh arah, kau kan dapati Dia lah Penguasa semua arah. Telah kupilih keridhaan-Mu diatas kesenanganku. Rahasiaku ini tetap kusimpan. Wahai, matahari Tabriz yang mencengangkan, tak mungkin engkau tetap tersembunyi. Cemerlang cahayamu akan mewartakan kedudukanmu.
Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2251.
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh:
Jonathan Star, dalam Rumi: In the Arms of the Beloved;
Annemarie Schimmel, dalam I am Wind, You are Fire;
William Chittick, dalam The Sufi Path of Love.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama kali diunggah pada, 7 Februari, 2012.
Di: htpps://ngrumi.blogspot.com/2012/02/engkau-lah.html
Fotonya baru diambil tahun 2023, di Manonjaya, Tasikmalaya.