
Suatu malam, seorang lelaki merintihkan, "Yaa Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya. Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban, 'Aku di sini,' untuk semua rintihan, 'Yaa Allah-mu?' Tiada satupun jawaban datang dari 'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan 'Yaa Allah' dengan wajah suram?" Si lelaki patah-hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau. Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali dzikir-mu kepada-Nya?" Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban 'labbayka' (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari gerbang-Nya." Nabi Khidir menjawab, "Allah bersabda: rintihan 'Allah'-mu itu adalah 'labbayka'-Ku, dan permohonan, duka serta semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu. Gerakan dan upayamu untuk menghubungi-Ku sebenarnya adalah penarikan-Ku padamu, yang melepaskan kakimu dari rantai keduniaan. Ketakutan dan cintamu adalah jerat untuk menangkap karunia-Ku, di balik setiap rintihan 'Rabbi,' terdapat berlipat 'labbayka,' dari-Ku." Berbeda dengan keadaan jiwa seorang yang jahil, karena baginya tak diizinkan menjeritkan, "Tuhanku." Pada lisan dan hatinya terdapat kunci dan gembok, sedemikian rupa, sehingga tak mampu merintih pada Tuhan, bahkan ketika perlu. Pernah pada sang Fir'aun diberikan harta kekayaan sedemikian berlimpah-ruah; sehingga dia mendaku keperkasaan dan keagungan Ilahiah. Sepanjang hidupnya manusia malang itu tak pernah rasakan keresahan ruhaniah, sehingga tak pernah menjerit kepada Tuhan. Kepadanya Tuhan berikan kerajaan dunia, tapi tidak lah dia diberi hati yang berduka, rasa sakit dan kesedihan. Hati yang berduka itu lebih baik daripada kerajaan dunia, sehingga dengan itu engkau menyeru Tuhan secara tersembunyi. Mereka yang tak kenal duka, menyeru dari hati yang membeku; sementara yang akrab dengan kepedihan menyeru dengan hati yang mencair. Sehingga ketika lisannya bisikkan permohonan, perhatiannya tertuju pada asal muasal dirinya. Sehingga rintihannya murni dan pedih, hatinya sungguh menjerit: "Wahai Tuhanku, Penolongku, pertolongan-Mu lah yang kami dambakan."
Sumber:
Rumi: Matsnavi III 189 – 197
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama kali diunggah pada 21 Oktober 2010.
Disimpan di: https://ngrumi.blogspot.com/2010/10/aku-di-sini-labbayka.html
[…] Aku di Sini (labbayka) […]