
Hawa-nafsumu adalah induk segala berhala: berhala jasmaniah itu bagaikan ular, sedangkan berhala batiniah itu bagaikan naga. Hawa nafsu itu bagaikan besi dan batu untuk menghasilkan api: berhala jasmaniah itu nyala-api, yang akan padam jika disiram air. Tetapi tidaklah mungkin menundukkan besi dan batu dengan air. Bagaimana insan yang sadar akan keberadaan hawa-nafsunya pernah merasa aman? Jika berhala jasmaniah itu bagaikan air-hitam di dalam kendi; hawa-nafsu itu adalah pancuran yang mengeluarkan air-hitam. Jika berhala jasmaniah itu seperti aliran air-hitam; hawa-nafsu penghasil-berhala itu bagaikan mata-air yang penuh. Hanya diperlukan sebutir batu untuk memecahkan kendi, tapi bagaimana dengan pancuran yang terus memancarkan air-hitam itu? Sangat mudah menghancurkan berhala jasmaniah, namun menganggap gampang menaklukkan hawa-nafsu, itu prasangka yang bodoh, bodoh sekali. Wahai anakku, jika engkau ingin tahu bentuk-bentuk dari hawa-nafsu, pelajarilah tentang Neraka, dengan ke tujuh pintunya. Setiap saat, hawa-nafu mengeluarkan tipu-muslihat; dalam setiap tipu-muslihat itu tenggelam seratus Fir'aun bersama bala-tentaranya. Melesatlah kepada Musa dan Rabb-nya Musa, jangan sampai kesombonganmu meluap, dan menumpahkan air keimanan. Wahai pencari, genggamlah tuntunan Allah dan teladan Musthafa, merdekakan dirimu dari Abu Jahal: jasmanimu sendiri.
Sumber:
Rumi: Matsnavi I: 772 – 782
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama kali diunggah pada 18 Oktober, 2010.
Di: https://ngrumi.blogspot.com/2010/10/hawa-nafsu-induk-segala-berhala.html