
Tengah tercengkeram engkau dalam cakar seekor singa: sahabatku, janganlah kau harapkan kebahagiaan. Hanya kekerasan yang dapat tundukkan musuh tersembunyi dalam dirimu. Tidaklah seorang pembersih yang sedang memukuli karpet, mengarahkan pukulan tongkatnya padamu melainkan kepada debu di dalamnya. Egomu tersembunyi di balik berlapis hijab debu tak bisa semuanya dibersihkan sekaligus. Bersama setiap pukulan sedikit demi sedikit tanggal hijab dari wajah qalb-mu. Janganlah kau coba mengelak dengan menyelinap ke dalam tidurmu, cakar tajam Sang Kekasih akan mengejarmu sampai ke dalam khayal-mu. Tidaklah seorang pengrajin mengukir sebatang kayu dengan keji, tapi dalam rangka membentuk sebuah karya yang indah. Keras tangan Sang Kekasih adalah sebuah rahmat, sahabatku: Ia akan menghaluskanmu, dan pada akhirnya, memurnikanmu.
Catatan:
Pada sebuah bagian Masnawi-nya,
Rumi menyampaikan:
Takdir itu bagaikan Singa,
yang menyeret diri kita,
yang sedang tersibukkan urusan dunia,
menuju ke hutan kematian.
Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, no 1139
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh
Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin.
Tercantum dalam buku:
Rumi’s Little Book of Life:
The Garden of Soul, the Heart and the Spirit,
Hampton Road Publishing, Inc, 2012.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.