Yang Diingkari Janin

Laut terbelah, sebuah gambaran
Apabila ada yang mengatakan 
kepada janin dalam rahim: 
“Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah Bumi yang menyenangkan, 
penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan 
yang harum, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, 
sinar mentari dan cahaya rembulan, 
serta tak terkira banyaknya bintang;

Di arah tenggara dan utara, 
serta di sebelah barat,
terbentang taman-taman yang indah,
bagaikan jamuan pesta pernikahan.

Keajaibannya tak terlukiskan: 
mengapa kau tetap tinggal di sini, 
di dalam kesengsaraan dan kegelapan ini?

Mengapa kau terus mereguk darah,
dalam penjara sempit yang kotor
dan penuh penderitaan ini?

Janin itu, sebagaimana galibnya,
tentu akan berpaling
karena tak percaya sama sekali,

Seraya berkata, “Sungguh itu
pertanyaan yang aneh,
penuh dengan tipuan dan khayalan;"
sebab penilaian dari yang buta itu
miskin imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika
seorang Abdal menceritakan,
ada sebuah dunia yang lain,
kepada orang biasa,

Dia berkata, 
“Alam dunia ini sangatlah 
gelapnya dan bagaikan gua yang sempit;
di luar sana ada semesta yang aroma 
dan warnanya tak seperti di alam ini:”

Maka tak ada sedikitpun
perkataannya didengarkan oleh mereka,
karena hawa-nafsu itu sungguh
suatu penghalang yang besar dan kokoh.

Syahwat menghijab telinga
dan menghalanginya mendengar;
mementingkan diri sendiri
menutup penglihatan dan
mencegahnya menyaksikan.

Maka, sebagaimana dengan janin,
hasratnya akan darah kotor,
yang merupakan nutrisinya
di alam bawah,

Menghalanginya dari menyimak kabar
dari alam dunia ini: tak dikenalnya 
jenis santapan lain 
kecuali darah.

Sumber:
Rumi: Matsnavi III: 53 – 68
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *