
Apabila ada yang mengatakan kepada janin dalam rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur, Sebuah Bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar; Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan yang harum, sawah dan ladang terbentang; Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya rembulan, serta tak terkira banyaknya bintang; Di arah tenggara dan utara, serta di sebelah barat, terbentang taman-taman yang indah, bagaikan jamuan pesta pernikahan. Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal di sini, di dalam kesengsaraan dan kegelapan ini? Mengapa kau terus mereguk darah, dalam penjara sempit yang kotor dan penuh penderitaan ini? Janin itu, sebagaimana galibnya, tentu akan berpaling karena tak percaya sama sekali, Seraya berkata, “Sungguh itu pertanyaan yang aneh, penuh dengan tipuan dan khayalan;" sebab penilaian dari yang buta itu miskin imajinasi. Maka, di dunia ini, ketika seorang Abdal menceritakan, ada sebuah dunia yang lain, kepada orang biasa, Dia berkata, “Alam dunia ini sangatlah gelapnya dan bagaikan gua yang sempit; di luar sana ada semesta yang aroma dan warnanya tak seperti di alam ini:” Maka tak ada sedikitpun perkataannya didengarkan oleh mereka, karena hawa-nafsu itu sungguh suatu penghalang yang besar dan kokoh. Syahwat menghijab telinga dan menghalanginya mendengar; mementingkan diri sendiri menutup penglihatan dan mencegahnya menyaksikan. Maka, sebagaimana dengan janin, hasratnya akan darah kotor, yang merupakan nutrisinya di alam bawah, Menghalanginya dari menyimak kabar dari alam dunia ini: tak dikenalnya jenis santapan lain kecuali darah.
Sumber:
Rumi: Matsnavi III: 53 – 68
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.