
Musa kalimullah as, menegur seseorang; yang sedang mabuk kepayang menyembah anak-sapi emas: “Kemana perginya keraguanmu? Biasanya engkau sangat kritis padaku. Laut Merah membelah. Manna dan salwa turun setiap hari, di gurun liar, selama 40 tahun. Sebuah mata-air memancar dari batu. Kau telah saksikan sendiri semua itu, tapi tetap kau tolak adanya kenabian. Lalu Samiri, si tukang sihir, melakukan satu tipuan yang membuat anak-sapi emas menguak, dan segera engkau membungkuk! Apa yang patung hampa itu perdengarkan? Apakah kau tangkap gema dari kehampaanmu sendiri?” Begitulah ketertarikan berlangsung: orang yang tak-kenal nilai terpesona pada hal yang tak-berharga. Orang yang tak-kenal makna atau tak tahu tujuan terpesona pada khayalan hampa. Setiap gerakan itu menuju kepada kaumnya sendiri. Tak akan seekor sapi menghampiri seekor singa. Seekor serigala takkan tertarik kepada Yusuf, kecuali untuk mencabiknya. Tetapi jika ada seekor serigala yang sembuh dari ke-serigalaan-nya, dia akan tidur melingkar di kakinya, bagaikan seekor anjing di dekat tuannya. Persahabatan sejati diantara jiwa melimpahkan keselamatan dan cahaya kepada para penghuni gua.
Catatan:
Dia (Samiri) menjawab, “Aku melihat sesuatu yang tidak mereka lihat. Kemudian, aku ambil segenggam bekas jejak rasul (Jibril as) lalu aku lemparkan (pada patung anak sapi). Demikianlah jiwaku membujukku.”
Dia (Musa) berkata (kepada Samiri), “Pergilah kau! Sesungguhnya di dalam kehidupan engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Jangan sentuh (aku).’ Dan sesungguhnya bagimu perjanjian yang engkau tak dapat menghindarinya. Lihatlah tuhanmu itu yang tetap engkau sembah. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkan (abu)-nya ke laut.”
(QS Thaahaa [20]: 96 – 97)
Sumber:
Rumi: Matsnavi II 2036 – 2058
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama kali diunggah pada 24 Juni, 2011.
Disimpan di: https://ngrumi.blogspot.com/2011/06/tentang-ketertarikan.html