Rahmat-Nya yang Tersembunyi

"Pelana" Gunung Gede, Cipanas, Cianjur, Juli 2023 Engkau bagai Langitdan aku seperti Bumi,yang terpesona pada apa-apayang Kau tumbuhkan dalam hatiku.Haus aku, kering bibirku,hanya rahmat-Mu berupa hujanyang dapat mengubah bumi menjadi sebuah taman mawar.Karena-Mu ia mengandung sesuatudan Engkaulah yang tahu bebannya.Ia bergetar, ia berputar, ia merintih,ia melahirkan suatu dambaan Ilahiah.Sang Kekasih merawat pencinta-Nyadan melimpahi mereka bermacam hidangan.Terkadang diikat-Nya merekadengan tali nalar fikiran;kali lain dibebaskannya mereka agar menari.Pandanglah taman penuh aneka bunga,tak mampu mereka menahan luapan kegembiraan.Pandanglah kuasa Ilahiah Sang Tunggalmengubah tanah lempung hina menjadi bentuk yang anggun.Semua yang kita tatap ini adalah hijabdari Matahari yang tak pernah tenggelam itu;Matahari yang sudah…
Read More
Mencintai Pasangan

Mencintai Pasangan

Masjid Agung Jawa Tengah, Januari 2024 Sebenarnya, tidak ada pencinta yang mencari penyatuan, tanpa yang-dicintainya mencarinya. Sementara cinta dari sang pencinta membuatnya sekurus tali-busur, maka cinta dari yang dicintai membuatnya indah dan segar. Ketika kilat cinta bagi yang-tercinta menyambar ke hati yang ini, ketahuilah, ada cinta dalam hati yang itu. Ketika cinta kepada Tuhan telah nyaring berbunyi di hatimu, tak pelak lagi, Tuhan telah mencintaimu. Tiada suara tepukan bisa terdengar hanya dari sebelah tangan. Ketika orang yang haus mengeluh: Wahai air yang lezat... Air pun mengeluh, seraya bertanya: Dimanakah sang peminum air? Kehausan di dalam jiwa-jiwa kita adalah ketertarikan yang…
Read More

Dalam Dekapan Sang Kekasih

Mandalasari, Agustus 2012 Akhirnya,berangkat engkau,bertolak ke alam tak-kasat mata.Sungguh mengagumkan,caramu tinggalkan alam-dunia.Kau kibaskan sayap dan bulumu,kau lepaskan diri dari sangkarmu.Mengangkasa engkau ke langit,kau capai alam jiwa.Pernah engkau bagai elang ningrat,dikurung seorang wanita tua. [1]Lalu kau dengar genderang penyeru, [2]dan melesatlah engkaulintasi ruang dan waktu.Sebagai burung yang merindu,pernah kau terbang bersama para burung hantu. [3]Ketika harum semerbak berhembusdari taman mawar,segera engkau bertolak,menjemput Sang Mawar.Anggur dari alam fana ini, [4]terkadang membuat pening kepalamu.Akhirnya, kau masuki Kedai Keabadian.Bagaikan sebatang panah [5]melesat engkau dari busur,tepat menghunjam ke inti kebahagiaan.Alam bayangan inimemberimu bermacam isyarat palsu.Tapi telah berpaling engkau dari maya,dan melangkah ke hadirat kesejatian.Kini, engkaulah…
Read More
Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Foto: pertama kali si bayi ke rumah Aki, di Kadungora, 13 Agustus 2010 Aku seorang pencinta,dan dari cinta-Nya,aku tak menghindar. Aku seorang ksatria,dan dari medan perang,aku tak menghindar. Layaknya seekor singa,kuserang para singa lain.Tapi bagai seekor rubah,dari jepitan kepungan,aku tak menghindar. Walaupun lengkung lelangit tujuanku,dari jebakan alam-dunia,aku tak menghindar. Walaupun aku ini obat bagi bermacam penyakit,tapi dari rasa-sakit orang lain,aku tak menghindar. Kuikuti para nabi dengan seluruh jiwaku,tapi dari rekan yang jahat,aku tak menghindar. Aku hidup dalam wadah kecil,bernama kehidupanku ini;aku masih tinggal disini, karena jiwaku tak menghindar. Satu-satunya sebab diterpanya akuoleh anak-panah lirikan-Nya, adalah karena dari anak-panahyang berasal dari busur yang…
Read More