Sebuah Do’a Pemberian-Mu

foto oleh Fatih Maraşlıoğlu: https://www.pexels.com/photo/man-praying-in-mosque-11435050/
Wahai Rabb,
sungguh Rahmat-Mu tercurah
bukan karena amal kami,
tapi karena limpahan-Mu
yang penuh rahasia.         [1]

Genggamlah kedua tangan kami,
selamatkan kami dari apa-apa 
yang kedua tangan kami telah lakukan;
angkatlah hijab kami kepada-Mu,
dan jagalah hijab kami 
agar tak robek,
itu akan mempermalukan kami.   [2]

Selamatkan kami dari keakuan diri;
tajamnya bagai ujung pisau
yang menusuk ke tulang kami.

Wahai Sang Raja,
yang tak bermahkota, tak bertahta,
siapakah yang dapat lepaskan 
rantai pengikat ini,                   [3]
dari diri kami yang tak berdaya?

Siapakah yang se-Pemurah Engkau,
wahai Maha Pengasih,
yang dapat membebaskan kami
dari penjara sekuat ini?            [4]

Palingkanlah wajah kami
dari menghadap ke diri sendiri
menjadi menghadap kepada-Mu;
karena sesungguhnya Engkau 
lebih dekat kepada Kami
daripada diri kami sendiri.   [5]

Bahkan do'a ini
pemberian-Mu kepada kami.

Bagaimana mungkin sebuah taman mawar
tumbuh dari abu ini?

Hanya dengan melalui kepemurahan-Mu,
pengertian dan pemahaman dapat disampaikan
kepada sosok yang terbentuk dari darah dan daging.

Sehingga melalui sepasang mata
terpancar gelombang cahaya 
yang dapat menjangkau langit.

Melalui sepotong lidah
dapat mengalir kata-kata penuh hikmah,
laksana aliran sungai.

Melalui sepasang telinga
dapat tertangkap kabar tentang sebuah taman
bagi jiwa yang ber-akal;
penuh dengan buah-buahan kecerdasan.

(Bawa kami ke) perjamuan utama 
berupa jalan raya menuju taman bagi jiwa-jiwa;
kebun dan taman di alam-dunia ini
adalah cabang dan bayangannya.

Itulah mata air sumber kebahagiaan sejati:
marilah kita men-dzikir-kan ayat,
"taman yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai..."                 [6]

Catatan:

[1]“Katakanlah, bersama dengan fadhillah Allah dan
bersama dengan rahmat-Nya, hendak lah bersama dengan itu
mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka
kumpulkan.”

(QS Yunus [10]: 58)

“Apa-apa yang di sisimu lenyap,
dan apa-apa yang di sisi Allah kekal…”

(QS An Nahl [16]: 96)

[2]  “Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa
bersandar kepada amal-amalnya adalah kurangnya
rasa harap
 di sisi wujud yang zalal.”

Rasa harap, kepada rahmat-Nya.
wujud yang zalal, berarti alam semesta, yang fanin, ciptaan.

(Ibn Atha’ Allah al-Iskandari: Al-Hikam, bahasan #1,
terjemahan oleh Zamzam AJT, 2012)

[3] Tentang “rantai,” lihat,
ngrumi: Terbelenggu Rantai tak-Terlihat

[4] Penjara, “keber-ada-an.”

[5] “… Kami lebih dekat kepadanya daripada urat-lehernya.”
(QS Qaaf [50]: 16)

[6] Tentang, “Jannah,” terdapat pada banyak ayat.

Sumber:

Rumi: Matsnavi II: 2443 – 2455
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Dibantu dengan terjemahan oleh Kabir Helminski.

Pertama kali diunggah, pada 20 Desember 2013,
di: https://ngrumi.blogspot.com/2014/11/sebuah-doa-pemberian-mu.html

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *