
"Rahasia pencarian Musa atas Khiḍr —
meskipun sempurna dia dalam kenabian dan kedekatannya kepada Allah."
Seperti penderita busung yang takkan pernah kenyang oleh air —
demi Allah, janganlah kau berhenti dimana pun yang telah kaucapai
dalam perjalanan ruhaniahmu
Hadirat Ilahiah ini adalah hamparan tanpa batas.
Tinggalkanlah tempat terhormat yang telah kau raih —
sebab Jalan itu sendiri adalah kehormatanmu.
Belajarlah dari Kalīmullāh, wahai pencari —
simaklah apa yang diucapkan sang Kalīm dalam api kerinduannya:
"Dengan kedudukan dan kenabian setinggi yang kupunya —
aku tetaplah seorang pencari Khiḍr,
tanpa memandang kedudukanku."
Kaumnya berkata kepadanya:
"Engkau telah meninggalkan kaummu —
engkau mengembara dalam kegelisahan
demi mencari seorang yang terpilih itu."
"Engkau adalah raja yang telah terbebas
dari rasa takut dan harapan duniawi —
sampai kapan engkau akan terus mengembara?
Sampai kapan engkau akan terus mencari?"
Musa menjawab: "Hentikanlah celaanmu padaku —
janganlah menghadang perjalanan matahari dan rembulan."
"Aku akan berjalan hingga mencapai 'majmaʿ al-baḥrain' —
agar aku dapat menjadi sahabat Sang Penguasa Zaman."
"Aku akan menjadikan Khiḍr sebagai washilah bagi tujuanku —
atau jika tidak, aku akan terus melangkah
dan berjalan jauh di kegelapan malam."
"Janganlah engkau menganggap kerinduan kepada Sang Kekasih
lebih rendah daripada kerinduan kepada makanan —
bahkan, kerinduan kepada Sang Kekasih
adalah jiwa dan alam semesta itu sendiri."
"Kerinduan kepada makanan dan kerinduan kepada Sang Kekasih
adalah dua hal yang sama sekali berbeda —
yang pertama penyebabnya hasrat;
sementara Sang Kekasih adalah asalnya segala penjelasan —
kemari, dan renungkanlah."
Catatan:
“Majma al-Bahrain,” tercantum pada QS [18]: 60
Sumber:
Rumi: Matsnavi III: 1960 -1970
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemajahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.