
Seorang lelaki menempuh perjalanan yang jauh
untuk mengunjungi sahabat kentalnya, Jusuf, sang nabi, as.
Setelah beramah-tamah, Jusuf bertanya kepada kawannya itu,
apa gerangan oleh-oleh yang dibawa dari negerinya,
sebagai hadiah.
Sang sahabat menjawab:
"Telah kurenungkan dalam-dalam, apa gerangan hadiah
yang pantas untukmu, sahabatku.
Apa yang kau perlukan, sementara kutahu,
semua hal telah kau miliki.
Tak ada seorang pun yang lebih elok daripadamu di dunia ini;
karenanya kubawa untukmu sebuah cermin sederhana.
Setiap kali kau memandangnya, akan kau lihat
bayangan wajahmu yang sempurna.
Engkaulah perwujudan keindahan."
Apakah mungkin ada sesuatu yang diperlukan oleh Dia,
yang Maha Agung?
Bukankah segala sesuatu ciptaan adalah milik-Nya.
Yang Dia kehendaki adalah qalb insan yang jernih,
yang di dalamnya Dia dapat melihat bayangan-Nya sendiri.
Catatan:
Seturut rumusan tujuan penciptaan insan,
“al-Insan itu adalah citra (shurah) ar-Rahmaan,”
atau menjadi manifestasi dari asma-Nya ar-Rahmaan.
Dan itu tercapai saat pendakian seorang insan sampai
pada tataran seorang ibadur-Rahmaan.
(QS [25]: 63)
Contoh dalam Kitab Suci adalah Jusuf as, sang Nabi.
Sosok Beliau dimaksudkan sebagai gambaran keelokan jiwa
seorang Insan Kamil.
Sumber:
Rumi: Fihi ma Fihi,
Dinukil oleh Maryam Mafi, dalam bukunya, “Rumi’s Little Book of Wisdom,” bahasan #198
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.