
Wahai Sana'i, [1]
Jika tak kau temukan satu pun sahabat,
Jadilah sahabat bagi dirimu sendiri.
Di alam dunia ini,
tempat dari bermacam manusia
dan beragam tugas,
jadilah pelaksana dari tugasmu sendiri.
Setiap pengikut dari karavan ini,
mencuri perbekalannya sendiri--
waspadai dan jagalah bekalmu. [2]
Sebagian besar orang berjual-beli
keidahan dan cinta palsu--
lewati ke dua sungai kering ini,
dan jadikan dirimu sungai yang deras mengalir.
Jika ada kawan yang menarik tanganmu
ke arah hal yang tak berarti,
segera tarik tanganmu
dan jadikan dirimu seorang penolong
bagi dirimu sendiri.
Ciptaan-ciptaan yang cantik ini,
bagaikan lukisan indah pada kanvas,
menghijab aneka keindahan qalb,
sibakkan hijab dan masuklah
hadirlah bersama Yang Tercinta-mu.
Hadirlah bersama Yang Tercinta,
jadilah insan berakal-sejati,
naiklah mengatasi kedua alam,
tempatilah semestamu sendiri.
Bertolaklah:
jangan terbujuk anggur takabur--
tataplah cemerlangnya Wajah itu,
dan tetaplah engkau sadar
akan (kehambaan) dirimu sendiri.
Catatan:
[1] Hakim Sana’i, seorang sufi bijak termasyhur.
Saling menasehati diantara para awliya umumnya ditujukan
untuk memberi pengajaran kepada murid-murid mereka.
[2] Sadar atau tidak, setiap kita berada dalam karavan menuju kematian.
Masing-masing kita, setiap saat mengambil dari jatah bekal kita sendiri;
misalnya umur.
Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no. 1244.
Berdasarkan terjemahan William C. Chittick,
di The Sufi Path of Love, SUNY Press, Albany, 1983.
Pertama kali diunggah pada 24 Juni 2012.
Disimpan di: https://ngrumi.blogspot.com/2012/06/dan-tetaplah-engkau-sadar.html
Tetap sadar dan waras itu penting dan perlu…
puisi menjaga diri waras.
[…] Dan Tetaplah Engkau Sadar […]
Salam.
Kang, saya baru perhatikan anda mengcopy puluhan terjemahan saya atas puisi Rumi, yang saya cantumkan di blogs ngrumi.
Terimakasih atas atensinya.
Kiranya anda dapat mencantumkan sumbernya, yaitu url blog tempat anda meng-copy, sebagai suatu etika penulisan baku.
Wassalam.