
Engkau menyimpan seorang Khiḍr di tengah-tengah dadamu —
berada di antara air kehidupan
dan padang rumput yang menghijau.
Khiḍr sendiripun kan jeda menjaga air kehidupan itu —
seandainya diciumnya wangi
dari apa yang kau simpan dalam dirimu.
Engkau bagaikan ruh di dalam bahtera Nuh —
engkau adalah musim semi di taman jiwa-jiwa.
Andai genderang keberadaan seluruhnya hancur —
dari kedalaman ketersembunyian ketiadaan,
kau kan tetap mengangkat panji pengetahuan.
Andai keempat unsur alam ini terbakar habis —
tak mengapa;
engkau adalah jiwa dari keempatnya.
Kadang ia mengikat, kadang ia membebaskan —
wahai engkau yang memperumit segala urusan,
apakah sesungguhnya yang sedang kaukerjakan?
Ia adalah pohon cemara yang menjulang tinggi,
sementara engkau hanyalah bayangannya —
ia adalah angin dari utara yang menyegarkan,
sementara engkau hanyalah debu yang terbawa anginnya.
Di matamu telah dituangkan celak prasangka dan khayalan —
engkau menyangka bahwa engkau bertindak
atas kehendak bebasmu sendiri.
Bahkan cakrawala langit pun
tidak berputar atas kehendaknya sendiri —
maka siapakah gerangan engkau,
dengan segala kelemahanmu itu?
Dari ketiadaan dirimu, engkau telah membangun keberadaan —
dan leher yang kau bangun sendiri itulah yang kini kau cekik.
Rasa takut yang ada padamu adalah bukti atas dirimu sendiri —
bahwa perlindungan sejati itu datang dari selain dirimu.
Tidak ada hati yang takut kepada dirinya sendiri —
tidak ada orang yang memohon pertolongan
kepada dirinya sendiri.
Maka rasa takut dan harapanmu itu adalah dua saksi —
atas kerajaan Sang Raja dan kekuasaan-Nya yang sempurna.
Dan apabila engkau telah melampaui rasa takut dan harapan —
engkau berada dalam keamanan sejati,
sebagaimana sifat-sifat Sang Pencipta itu sendiri.
Kapallah yang takut kepada laut — bukan lautan yang takut —
(seharusnya) engkau adalah lautan tanpa tepi itu,
bukan kapalnya.
Bila kapalmu — diri-egomu — telah pecah dan hancur —
diamlah; hentikanlah segala kata-kata.
Siapakah yang dapat mengemudikan kapal yang telah hancur —
selain air itu sendiri, dengan gelombangnya yang tak menentu?
Nakhoda bagi mereka yang hancur dan terpecah
adalah lautan karunia itu — dengan kesabaran-Nya yang tak bertepi.
Diamlah — sebab nasehat 'aql adalah mahar (yang menutup rahasia) —
duduklah di tempatmu, karena malam telah tiba.
Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal #2747