
Seekor semut kecil melihat sebatang pena di atas kertas,
lalu menyampaikan rahasia ini kepada semut yang lain.
Katanya: "Pena itulah yang membuat gambar-gambar menakjubkan—
bagaikan pohon selasih, hamparan bunga bakung, dan mawar."
Semut yang lain berkata:
"Sang juru-seni adalah jari-jemari,
dan pena itu serta apa yang dirangkainya tak lebih
dari cabang dan bekas."
Semut ketiga berkata:
"Ini adalah karya lengan —
karena berkat kekuatannyalah jari yang kurus itu
mampu melukiskan gambar."
Demikianlah perdebatan itu terus naik tingkat demi tingkat,
hingga sampailah giliran seorang pemuka semut
yang sedikit lebih cerdas dari yang lain.
Ia berkata: "Janganlah kalian lihat kecakapan ini
sebagai berasal dari bentuk jasmani —
sebab bentuk itu menjadi tak sadar dalam tidur dan mati."
Bentuk jasmani itu tak ubahnya seperti pakaian
atau seperti tongkat —gambar-gambar yang tertoreh itu
takkan bergerak kecuali dengan kekuatan akal dan jiwa."
Namun ia tidak menyadari bahwa 'aql itu sendiri beserta fu'ad—
tanpa taqlib Allah, yang membolak-balikkan —
tak lain hanyalah benda mati.
Sumber:
Rumi: Matsnavi IV: 3270 – 3279.
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Catatan:
Merujuk ke ayat sangat terkenal dalam al-Qur’an, an-Naml [27]: 18 – 19:
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكٗا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ
18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;
19. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
Pada bait-bait di atas, Mawlana Rumi menjelaskan tingkat-tingkat pemahaman manusia akan apa yang terjadi dalam dunianya, tentang bagaimana sesuatu tercipta. Mulai dari pandangan yang materialistik, naik ke nalar rasional – falsafah, sampai ke yang ‘arif (di bagian akhir) yang melihat “ke seberang,” akan adanya ‘aql sebagai penyebab ke dua, yang sepenuhnya berbolak-balik bergantung kepada “hembusan Ilahiah”.
Semut yang paling cerdas, tetap tak dapat menangkap apa maksud “aparat Ilahiah” (Sulaiman as, dan tentaranya) yang sedang bergerak menjalankan sebuah ‘amr, kecuali hanya tampilannya saja.