Kisah Para Semut

foto: pexels-nikgr-34204278

Sumber:
Rumi: Matsnavi IV: 3270 – 3279.
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.

Catatan:
Merujuk ke ayat sangat terkenal dalam al-Qur’an, an-Naml [27]: 18 – 19:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكٗا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ 

18.  Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

19.  maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Pada bait-bait di atas, Mawlana Rumi menjelaskan tingkat-tingkat pemahaman manusia akan apa yang terjadi dalam dunianya, tentang bagaimana sesuatu tercipta. Mulai dari pandangan yang materialistik, naik ke nalar rasional – falsafah, sampai ke yang ‘arif (di bagian akhir) yang melihat “ke seberang,” akan adanya ‘aql sebagai penyebab ke dua, yang sepenuhnya berbolak-balik bergantung kepada “hembusan Ilahiah”.

Semut yang paling cerdas, tetap tak dapat menangkap apa maksud “aparat Ilahiah” (Sulaiman as, dan tentaranya) yang sedang bergerak menjalankan sebuah ‘amr, kecuali hanya tampilannya saja.

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *