Rintihan Seruling Bambu

berjajar bambu di depan Bale Ihya al-Ghazali, Mandalasari,Desember 2013
Dengarkanlah suara seruling bambu
Menyayat rintihannya,
lantunkan perihnya perpisahan:

   "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu,
    ratapan pedihku telah membuat
    berlinang air-mata orang.

    Kuseru mereka yang tersayat hatinya
    karena perpisahan.

    Karena hanya mereka yang pahami
    sakitnya kerinduan ini.

    Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya
    merindukan saat mereka kembali.

    Dalam setiap pertemuan,
    bersama mereka yang tengah gembira atau sedih,
    kudesahkan ratapan yang sama.

    Masing-masing orang hanya dapat mendengar
    sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri.

    Tak ada yang mencari lebih dalam
    tentang rahasia didalam diriku.

    Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku,
    mata-telinga tak bercahaya
    takkan mampu memahaminya."

Desah seruling bersumber dari api,
bukannya angin.

Apa gunanya hidup seseorang
yang tak lagi ada apinya?

Adalah api cinta yang menghidupkan
nyanyian sang seruling.

Adalah ragi cinta
yang membuat anggur terasa lezat.

Lantunan seruling mengobati hati
yang perih karena cinta yang hilang.

Lagunya menyapu hijab
yang menyelubungi hati.

Adakah racun yang lebih pahit
atau gula yang lebih manis
daripada nyanyian seruling bambu?

Agar dapat kau dengar
nanyian seruling itu
mesti kau tanggalkan semua hal
yang pernah kau ketahui.

Catatan:
Ini terjemahan dari bagian awal Matsnavi.
Selanjutnya Matsnavi menceritakan kegelisahan pencarian, kesakitan karena terpisah,
kerinduan sang hamba akan Rabb-nya: ciri khas dari hamba yang cinta kepada Penciptanya.

Sumber:
Rumi: Matsnavi I: 1 – 18.
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star,
dalam “Rumi – In the Arms of the Beloved,”
Jeremy P. Tarcher/ Putnam, New York, 1997.

Dan terjemahan sebelumnya ke Bahasa Inggris
oleh Reynold A. Nicholson.

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *