Rayakanlah

Catatan:
1)  Sebuah hadits tentang keutamaan puasa:
“Setiap amal bani Adam teruntuk baginya, kecuali puasa. Puasa itu bagi-Ku, dan Aku lah yang akan memberinya ganjaran dengannya. Dan puasa itu perisai. Apabila salah satu diantaramu berpuasa maka janganlah merusak puasamu dengan berbicara kotor (rafats) atau kasar. Apabila dihina atau diajak bertengkar, maka hendaklah dia berkata, ‘saya sedang berpuasa.’  Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat kelak, daripada wanginya kesturi. Dan bagi yang berpuasa ada dua kesenangan yang menggembirakannya: ketika dia berbuka dari puasanya, dia senang; dan ketika dia berjumpa Rabb-nya, dia senang karena puasanya.”

(Hadits Muslim, bab Puasa, no 1944)

2) Bermula dari “melihat rembulan,” atau “hilal” untuk menentukan waktu awal berpuasa, Rumi menyampaikan tentang “rembulan” yang lain. Bulan purnama adalah simbol dari qalb sang hamba yang berhasil disucikan dari hal-hal yang tak diskukai-Nya.
Aneka perjuangan dalam berpuasa lahiriah dan batiniah dimaksudkan agar qalb sang hamba tersucikan.
Karenanya, merayakan puasa artinya berjuang menempuh jalan pensucian diri dengan menggunakan tuntunan berpuasa yang diwariskan oleh Nabi saw. Qalb yang tersucikan adalah salah satu karakteristik dari orang yang bertakwa.
Dan menjadi seorang abdi-Nya yang bertakwa adalah dambaan dari setiap mukmin yang berpuasa.

3)  Catatan belajar seorang rekan tentang puasa dalam ulasan Ibn al-‘Arabi:
https://www.facebook.com/notes/bambang-setyadi-machmud/tentang-shaum-yang-tersembunyi-dibalik-dua-kegembiraan/10154457668865538?pnref=story

Sumber:
Rumi: Divan-i Kebir ghazal no 2344
Terjemahan ke bahasa Inggris dari bahasa Turki
oleh Nevit Ergin;
Terjemahan dari bahasa asli, Persia, ke bahasa Turki
oleh Golpinarli.
Dalam “Mevlana Jelaleddin Rumi; Divan-i Kebir,”
Volume 18, 2002.

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *