
Tamuku mendadak muncul. Terkejut, hatiku bertanya, "Siapa di situ?" Jiwaku menjawab, "Rembulan yang Agung." Sang Tamu ada di dalam rumah, tetapi kita--seperti kurang waras-- hilir-mudik di jalan-jalan mencarinya. "Aku di sini," terus dia memanggil dari dalam, sementara kita, bagaikan merpati, tak hentinya mendekur: "di manakah, di manakah engkau?" Seperti saat segerombolan orang, berkerumun di tengah malam, sambil mereka berteriak: "Tolong, ada pencuri!" Sementara sang pencuri, yang ada bersama mereka, ikut berteriak pula. Suaranya bercampur, dan akhirnya tenggelam ditelan suara gerombolan itu. Ayat yang berbunyi, "..Dia bersamamu.," [1] artinya: dalam pencarianmu akan Dia --Dia bersamamu--lebih dekat daripada urat lehermu sendiri; mengapa kau cari Dia di luar dirimu sendiri? Mencairlah bagaikan salju, tahirkan dirimu --dari dirimu sendiri-- dan biarkan cinta tumbuh dalam dirimu, dengan senyap: bagaikan sekuntum bakung.
Catatan:
[1] QS al-Hadid [57]: 3
Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, no 2172
Penerjemah ke Bahasa Inggris oleh
Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin.
Tercantum dalam buku
Rumi’s Little Book of Life:
The Garden of Soul, the Heart and the Spirit,
Hampton Road Publishing, Inc, 2012.