Bersandarlah kepada Rencana-Nya

Di dinding arah kiblat Masjid Nabawi, Sya'ban 1445H

Catatan:

[1] Mereka yang “… memohon ampun di waktu fajar” 
(QS [3]: 17).

[2] Ketika hidupnya “dikeringkan,” lalu sang pencari terus mencari “air” ilmu-ilmu ketuhanan, maka beruntunglah jika sang pencari menemukan “Sang Rembulan,” Theophany.
Bandingkan dengan Tingkatkanlah Kehausanmu(http://ngrumi.blogspot.com/2011/05/tingkatkanlah-kehausanmu.html).

Mengingatkan kepada sebuah hadits (Bukhari no 539, juga terdapat, antara lain, pada no 521, 6884, 6070)
“Kami sedang bersama Nabi saw, saat Beliau melihat rembulan di malam purnama. Kemudian Beliau saw berkata: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihatnya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.’ Kemudian Beliau membaca, ‘Maka bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya’
(QS [50]: 39)”

[3] “… sesungguhnya aku mencium wangi Yusuf …” 
(QS [12]: 94).

[4] Lihat QS [12]: 19.

[5] Lihat QS [20]: 9 – 10.

[6] Lihat QS [4]: 158.

[7] Raja Sulaiman a.s. pernah tertipu iblis dan kehilangan cincin kekuasaannya, sehingga dia terbuang dari istananya. Sebagai orang biasa dia bekerja sebagai nelayan. Sampai secara tak sengaja ditemukannya kembali cincin itu dalam perut ikan yang dijalanya.

[8] “Mutiara hakikat di dalam qalb” direfleksikan bayangannya sebagai mutiara dalam kerang yang hidup di dasar laut.

[9] Para pecinta dunia mengejar harta-karun emas, permata, berlian dari alam dunia ini; padahal itu hanya bayangan–walaupun seringkali dipakai sebagai ‘umpan’ bagi pencari tingkat awal–dari harta-karun Sejati yang Sang Pencipta simpan di dalam qalb insan.[10] Pengejawantahan dari QS [94]: 1 yang sangat terkenal itu.

[11] Sejatinya jiwa (nafs) itu warga alam malakut, seperti para malaikat. Jika jiwa telah kembali suci dan sungguh-sungguh berpengetahuan ketuhanan, maka dia jiwa mampu menjelajahi alam malakut untuk mencari pengetahuan lebih tinggi lagi. Ini adalah bagian dari mengikuti Milah Ibrahim,“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahiim, malakut lelangit dan bumi, agar ia termasuk orang-orang al-Muuqiinin”.
 (QS [6]: 75).

Sumber:
RumiKulliyat-e Shams, Ghazal no 598
Badi-uz Zaman Furuzanfar (ed.)
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
dalam Mystical Poems of Rumi, no 74


By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *