
Akulah angin,
dan engkau selembar daun:
Bagaimana kau tak gemetar,
bila tak kau taati perintah-Ku?
Kulemparkan sebutir batu,
sehingga remuklah gelasmu:
Lalu, bagaimana tak diubah engkau?
Jadi berharga bagai seratus permata,
seratus samudera?
Catatan:
Mengingatkan akan kisah Musa as di dalam al-Qur’an [28]: 15 – 20.
Betapa perubahan pada diri Musa, sang pangeran Mesir, dimulai saat dia membela seseorang, dan memukul lawan bersengketanya. Sampai “tak sengaja” lawan orang itu tewas. Memaksanya menjadi seorang buronan di Mesir. “Remuklah gelas” (kehidupannya) berkeping-keping. Terpaksa dia melarikan diri ke Madyan. Disana, malah dia bertemu gurunya. Yang menyiapkannya menjadi seorang pemimpin. Malah menjadi seorang nabi bagi umatnya.
Pada usia sepuhnya, barulah diterangkan kepadanya (oleh Khidir as, direkam dalam QS al-Kahfi) bahwa kejadian di masa mudanya itu bukanlah suatu kebetulan. Itu adalah bagian dari penyiapan dan pendidikan baginya. Mengubahnya dari seorang pelarian menjadi seorang Insan Ilahiah, yang dekat kepada Tuhannya dan tak ternilai harganya.
Sumber:
Rumi: Rubaiyat F#1958,
Kolliyaat-e Syams-e Tabrizi,
Disunting oleh Badiozzaman Forouzanfar
Teheran, Amir Kabir, 1988.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand.