Rumah yang Sempit dan Gelap

di sebuah pemakaman tua di daerah Panjalu, Kawali, September 2021

Seorang anak menangis,   
di samping keranda ayahnya,
seraya merintih: 
“Mengapakah mereka masukkan engkau  
ke dalam rumah yang begitu sempit,  
begitu dingin dan gelap,  
tak ada karpetnya, tak ada pintunya,  
tak ada pula jalan keluarnya!

Tak ada semerbak harum masakan,  
tak ada tetangga yang ramah;  
mengapa mereka masukkan engkau  
ke tempat yang demikian sunyi?”

Seorang anak yang lain     
mendengar rintihan  itu,   
dan bertanya kepada ayahnya:  
“Ayah, apakah mereka membawa mayat itu  
ke rumah kita?”


“Sungguh dungu pertanyaanmu,”  
jawab ayahnya dengan kesal.   

“Tapi,  Ayah,” anak itu melanjutkan,  
“apa yang dikatakannya  
persis seperti  keadaan rumah kita:  
tak ada karpetnya,  tak ada lampunya,  
dan tak ada pula makanannya.”

Banyak orang menjalani hidup mereka,  
hampa akan kasih-sayang,  
tak pernah mereka sadari,    
betapa sempit dan gelapnya hati mereka;  
tak pernah hati mereka  
disinari cahaya matahari.

Sebuah kuburan   
lebih baik keadaannya  
dibandingkan hati semacam itu.

Sumber:
Rumi: Matsnavi  II: 3116 – 34, 78
dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson,
diolah lebih lanjut oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin,
dalam, “Rumi’s Little Book of Life,” versi  Kindle, Amazon,
terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.

By hersoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *