
Seorang anak menangis,
di samping keranda ayahnya,
seraya merintih:
“Mengapakah mereka masukkan engkau
ke dalam rumah yang begitu sempit,
begitu dingin dan gelap,
tak ada karpetnya, tak ada pintunya,
tak ada pula jalan keluarnya!
Tak ada semerbak harum masakan,
tak ada tetangga yang ramah;
mengapa mereka masukkan engkau
ke tempat yang demikian sunyi?”
Seorang anak yang lain
mendengar rintihan itu,
dan bertanya kepada ayahnya:
“Ayah, apakah mereka membawa mayat itu
ke rumah kita?”
“Sungguh dungu pertanyaanmu,”
jawab ayahnya dengan kesal.
“Tapi, Ayah,” anak itu melanjutkan,
“apa yang dikatakannya
persis seperti keadaan rumah kita:
tak ada karpetnya, tak ada lampunya,
dan tak ada pula makanannya.”
Banyak orang menjalani hidup mereka,
hampa akan kasih-sayang,
tak pernah mereka sadari,
betapa sempit dan gelapnya hati mereka;
tak pernah hati mereka
disinari cahaya matahari.
Sebuah kuburan
lebih baik keadaannya
dibandingkan hati semacam itu.
Sumber:
Rumi: Matsnavi II: 3116 – 34, 78
dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson,
diolah lebih lanjut oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin,
dalam, “Rumi’s Little Book of Life,” versi Kindle, Amazon,
terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.