
Ramadhan telah tiba: Rayakanlah! Perjalanan menyenangkan menuju Yang Esa, Dialah yang menemani mereka yang sedang berpuasa. Kupanjat atap, agar dapat kulihat Rembulan. Karena kurindukan berpuasa dengan hati dan jiwa. Hilang akalku saat kutatap Rembulan. Sang Sultan, rajanya puasa, membuatku mabuk. Wahai saudaraku kaum Muslim, aku telah mabuk sejak hari aku kehilangan akal. Sungguh khasanah nan indah tersimpan di dalam puasa. Sungguh terdapat padanya kemenangan yang mencengangkan. Ada Rembulan lain yang dirahasiakan selain rembulan yang ini. Ia tersembunyi di dalam tenda puasa bagaikan seorang Turki. Siapa saja yang berkehendak mendapatkan panen puasa bulan ini, carilah jalan menuju Rembulan yang itu. Yang wajahnya sampai pucat, bagaikan satin, memakai puasa sebagai pakaian sutranya. Bulan ini do'a dikabulkan. Desah mereka yang berpuasa merobek langit. Lelaki yang duduk dengan sabar di dasar sumur puasa, memenangkan cinta seluruh Mesir, dialah Yusuf. Ketika saat santap sahur tiba, diamlah: sehingga mereka yang kenal puasa menikmati berpuasa. Datanglah, wahai Syamsudin yang pemberani, kebanggaan Tabriz, engkaulah panglima para prajurit, ahli berpuasa.
Catatan:
1) Sebuah hadits tentang keutamaan puasa:
“Setiap amal bani Adam teruntuk baginya, kecuali puasa. Puasa itu bagi-Ku, dan Aku lah yang akan memberinya ganjaran dengannya. Dan puasa itu perisai. Apabila salah satu diantaramu berpuasa maka janganlah merusak puasamu dengan berbicara kotor (rafats) atau kasar. Apabila dihina atau diajak bertengkar, maka hendaklah dia berkata, ‘saya sedang berpuasa.’ Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat kelak, daripada wanginya kesturi. Dan bagi yang berpuasa ada dua kesenangan yang menggembirakannya: ketika dia berbuka dari puasanya, dia senang; dan ketika dia berjumpa Rabb-nya, dia senang karena puasanya.”
(Hadits Muslim, bab Puasa, no 1944)
2) Bermula dari “melihat rembulan,” atau “hilal” untuk menentukan waktu awal berpuasa, Rumi menyampaikan tentang “rembulan” yang lain. Bulan purnama adalah simbol dari qalb sang hamba yang berhasil disucikan dari hal-hal yang tak diskukai-Nya.
Aneka perjuangan dalam berpuasa lahiriah dan batiniah dimaksudkan agar qalb sang hamba tersucikan.
Karenanya, merayakan puasa artinya berjuang menempuh jalan pensucian diri dengan menggunakan tuntunan berpuasa yang diwariskan oleh Nabi saw. Qalb yang tersucikan adalah salah satu karakteristik dari orang yang bertakwa.
Dan menjadi seorang abdi-Nya yang bertakwa adalah dambaan dari setiap mukmin yang berpuasa.
3) Catatan belajar seorang rekan tentang puasa dalam ulasan Ibn al-‘Arabi:
https://www.facebook.com/notes/bambang-setyadi-machmud/tentang-shaum-yang-tersembunyi-dibalik-dua-kegembiraan/10154457668865538?pnref=story
Sumber:
Rumi: Divan-i Kebir ghazal no 2344
Terjemahan ke bahasa Inggris dari bahasa Turki
oleh Nevit Ergin;
Terjemahan dari bahasa asli, Persia, ke bahasa Turki
oleh Golpinarli.
Dalam “Mevlana Jelaleddin Rumi; Divan-i Kebir,”
Volume 18, 2002.