
Ketika Sang Kekasih menjadi sahabat, tempat manapun menjadi bagaikan di langit; dan bukan terbenam ke bumi. Sang Nabi saw, berkata, "Jangan menyangka mi'raj-ku lebih unggul daripada apa yang terjadi pada Yunus; aku diangkat ke langit; dia ditenggelamkan ke dalam perut paus;" kedekatan pada al-Haqq itu di luar perhitungan. Kedekatan itu bukan soal naik atau turun: kedekatan pada al-Haqq itu artinya kemerdekaan dari penjara keberadaan. Tiada tempat bagi gerak ke atas atau ke bawah dalam ketiadaan. Ketiadaan tak mengenal nanti, jauh, atau terlambat. Sumber ilmu dan khazanah al-Haqq berada di ketiadaan. Karena keberadaan ini saja telah menipumu, bagaimana mungkin kau pahami apa itu ketiadaan? Kekurangan adalah bagian dunia yang telah ditentukan bagi sang Nabi saw, kefakiran dan kerendahan adalah kebanggaan dan kemuliaannya.
Catatan:
[1] Dan Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan
menyulitkannya. Maka, dia berdo’a dalam kegelapan yang berlapis-lapis,
“tiada ilah kecuali Engkau, subhanaka, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim”.
(QS [21]: 87)
[2] Diselamatkan, karena Beliau as, termasuk golongan al-Musabbihiin.
“Maka, sekiranya dia tak dari (golongan) al-Musabbihiin, niscaya dia akan tinggal
di dalamnya sampai hari berbangkit”
(QS Ash Shaaffaat [37]: 143 – 44)
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ra.,
“Ketika Nabi Yunus telah menyeru kaumnya supaya berbakti
kepada Allah, maka kaumnya tetap saja menolak seruan itu.”
Lalu Nabi Yunus berdoa kepada Allah, mohon agar
umatnya mau menerima ajarannya.
Kemudian turunlah wahyu yang menyatakan supaya
Yunus tetap berdakwah kepada umatnya dalam 40 hari,
dan apabila dalam 40 hari mereka masih tidak mau
beriman kepada Allah, Allah akan menurunkan azab.
Kemudian Nabi Yunus kembali berdakwah
kepada kaumnya, setelah 37 hari berdakwah dan
umatnya tetap saja kufur, maka Nabi Yunus tidak sabar
dan pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah.
Kemudian pada hari yang ke-40, kaum Nabi Yunus
merasa yakin bahwa azab akan datang menimpa mereka,
karena gejalanya sudah mulai tampak, berupa awan hitam
yang bergumpal-gumpal di langit.
Melihat azab sudah dekat, mereka berlarian keluar rumah
pergi ke suatu tempat.
Kemudian Allah memasukkan perasaan ke dalam hati
kaum Nabi Yunus untuk bertobat dan kembali
kepada-Nya.
Mereka semua menangis, baik pria, wanita maupun
anak-anak. Mereka menyesali kedurhakaannya,
dan mereka menundukkan diri kepada Allah.
Pada saat yang genting dan menakutkan itulah,
kemudian Raja dari Nineveh keluar dari istana
dan memimpin rakyatnya untuk bermunajat
memohonkan ampunan dan taubat kepada Allah SWT.
Maka, rahmat dan kasih sayang Allah melimpah kepada
mereka. Allah menghilangkan azab yang menghinakan
mereka.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun
yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya
selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu)
beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan
dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan
kepada mereka sampai waktu tertentu.”
(QS. Yunus [10]: 98)
Sumber:
Rumi: Matsnavi III: 4511-4516, 4519
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.