
Sleeps like a baby, Parabon-BDG 2 Okt 2010
Wahai pencari,
jangan bersedih jika Yang Tercinta mengusirmu;
jika hari ini engkau diusir,
itu hanya agar esok Dia memanggilmu.
Jika dia menutup pintu untukmu,
jangan pergi,
bersabarlah sebentar;
karena sabarmu itu akan ditaruh-Nya engkau
pada tempat terhormat,
di sisi-Nya.
Jika Dia menutup bagimu semua jalan dan lintasan,
janganlah berputus-asa,
akan diperlihatkan-Nya untukmu suatu jalan rahasia,
yang tak diketahui orang lain.
Perhatikanlah tukang jagal,
yang memotong kepala domba dengan pisaunya,
tidaklah lalu dia meninggalkan sembelihannya.
Ketika tiada lagi nafas pada domba yang disembelih,
keahlian selanjutnya dari sang penjagal
bagaikan nafas baru, yang menghidupkan kembali
binatang itu.
Bayangkan, kehidupan seperti apa
yang diberikan hembusan-Nya.
Itu tadi hanya suatu perbandingan:
kemurahan-Nya takkan membunuh satu orangpun,
sebaliknya, itu akan mencegah orang membunuh.
Diberikan-Nya seluruh kerajaan Sulaiman
kepada seekor semut;
Dia menganugerahkan kedua alam,
tanpa mengagetkan satu qalb pun.
Semesta demi semesta,
telah qalb-ku jelajahi,
tak kudapat sesuatu pun seperti Dia.
Siapa dapat menandingi-Nya?
Tiada sesuatupun mirip Dia.
Kini, diamlah!
Karena tanpa kata dianugerahkan-Nya anggur ini.
Diberikan-Nya untuk dicicipi.
Diberikan-Nya untuk dicicipi.
Diberikan-Nya untuk dicicipi.
Catatan:
Mengenai yang satu ini, seorang bijak kemarin mengajari untuk merenungkan sebuah potongan do’a, “kama rabbayani shagira…” Disampaikannya, “kita hanya bisa membayangkan bagaimana sayangnya Rabb kepada hamba-Nya, dengan gambaran bahwa ‘Dia lebih sayang kepada hamba-Nya, daripada kasih-sayang seorang ibu kepada bayi yang disusui di dadanya’ “.
Hanya saja, tambahnya, “Tak banyak yang menempatkan Dia swt, sebagai Rabb-nya: sebagai pengatur, pengelola, majikan yang lebih mengetahui hal-ihwalnya; yang menunjuki pengelolaan hidupnya, yang mencukupi segala kebutuhannya, lahiriah – batiniah, di alam dunia ini dan alam-alam berikutnya”.
Sumber:
A. J. Arberry, Mystical Poems of Rumi, no 95
Dari: Rumi, Kulliyat-e Shams
(Badi-uz Zaman Furuzanfar, Ed.)