
Rasa sakit akan timbul ketika dengan sadar diri dicermati: rasa sakit itulah yang akan mengeluarkan seseorang dari hijab bangga-diri. Tanpa sang ibu dikuasai rasa-sakit yang sangat, ketika melahirkan, bayi tidak akan menemukan jalan lahir. Amanah dari Sang Pencipta tersimpan dalam qalb; [1] qalb lah yang mengandungnya: sementara nasehat dari para nabi dan rasul itu bagaikan bidan. Bisa saja bidan membujuk sang ibu bahwa sakit melahirkan itu tidak seberapa; tapi rasa sakit itu tetap perlu. Sakit itulah yang memberi jalan kelahiran bagi sang bayi. Yang tak punya rasa sakit itu adalah seorang penyamun, karena tanpa rasa sakit itu sama dengan mengatakan: Akulah Rabb. Menyerukan "Aku" pada saat yang salah adalah sebuah kutukan bagi yang mengatakannya; sebaliknya mengatakan "Aku" pada saat yang tepat adalah sebuah Rahmat Tuhan. "Aku" ketika disampaikan oleh Manshur jelaslah sebuah Rahmat, sementara "Aku" yang dikatakan Fir'aun adalah sebuah kutukan. [2] Demikianlah, ayam jantan yang berkokok terlalu awal perlu disembelih lehernya. Apa maksudnya "disembelih?" Membunuh jiwa yang rendah dalam jihadul-akbar: memerangi diri sendiri, dan menolak himbauan syahwat. Itu sama dengan mencabut sengat dari kalajengking, agar selamat ia, tidak terbunuh. Atau mencabut taring dari ular, agar terhindar ia dari bencana mematikan. Tiada yang menyembelih jiwa yang rendah seperti perwalian Sang Guru; karena itu bertahanlah. Mampunya engkau bertahan itu semata karena pertolongan-Nya; semua kekuatan yang engkau miliki itu bersumber dari penarikan-Nya. Renungkanlah ayat, "tidaklah engkau melempar ketika engkau melempar:" apapun yang diperoleh jiwa itu bersumber dari Jiwa. [3] Dialah yang sebenarnya menggenggam tanganmu ketika engkau digerakkan menelusuri Jalan; Dialah yang sesungguhnya memikul beban-beratmu di pendakian panjang ini: berharaplah, agar engkau, dari saat ke saat, dilimpahi Hembusan yang Maha Rahman. [4]
Catatan:
[1] (QS [33]: 72), “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan
al-amanah kepada lelangit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir (akan mengkhianatinya), dan dipikullah amanat
itu oleh al-insan.
Berfirman Allah Ta’ala dalam sebuah Hadits Qudsi:
“Tak memuat-Ku bumi-Ku dan langit-Ku. Yang dapat
memuat-Ku adalah qalb abdi-Ku yang al-Mukmin yang
lunak dan tenang” (Al-Ghazali, “Keajaiban Hati,” hal 39).
Ibu hamil adalah aspek bayangan fenomenal dari hal esensial
bahwa qalb setiap insan itu “hamil:” mengandung suatu amanah
agung yang telah diperjanjikan (QS [7]: 172).
[2] Abul Mughits al-Hussain bin Manshur (858 – 913M), dikenal
dengan julukan “al-Hallaj”. Akhir hidupnya yang dramatis
menginspirasi tak-terhitung pencari merenungi pernyataannya
yang sangat terkenal, “anna al-Haqq”. Studi intensif mutakhir
tentang orang besar ini dipelopori oleh Louis Massignon.
Disini ucapan “Aku” dalam ucapan “anna al-Haqq” dari
al-Hallaj disandingkan dengan “Aku” dalam ucapan terkenal Fir’aun:
“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu
selain aku…” (QS [28]: 38).
Jika Mesir dipandang sebagai gambaran dari alam-dunia yang
memukau sihirnya, maka para pecinta dunia zaman kapanpun
sebenarnya dihegemoni total dalam cengkeraman trium-virat
kuasa harta (dipersonifikasi oleh Qarun), kuasa ilmu-ilmu dunia
(dipersonifikasi oleh Haman) dan kuasa politik (dipersonifikasi
oleh Fir’aun).
[3] Bersumber dari QS [18]: 17 yang diturunkan ketika Perang
Badar. Bagi para ahli jihadul-akbar di jalan pertaubatan,
ayat ini landasan dari fana’ af-‘al: ketika karsa hamba selaras
dengan Karsa Sang Pencipta.
[4] Ketika Hembusan yang Maha Rahman, “nafakh ar-Rahmaan”
sedang membelai sang hamba, dia beralih dari “berjalan”
menjadi “diperjalankan:” Tujuan Jalan menjemputnya, dia
sedang diakrabi sang Pemilik Jalan, ditemani berjalan,
dirangkul, dibawakan bebannya.
Sumber:
Matsnavi II: 2517 – 2531
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama kali diunggah pada 6 Mei 2010
diunggah di: https://ngrumi.blogspot.com/2010/05/ketika-rasa-sakit-tiba.html