
di Masjid SGD, Kasepuhan, Cirebon, Desember, 2025
Lepaskanlah beban kehidupan ini,
agar dapat kukunjungi
taman kaum yang shaleh.
Lalu, bagai ashabul-kahfi,
kutelusuri jalan penuh karunia
ketika tak lagi kuterjaga,
bukan pula kutertidur.
Ku kan berbaring ke sebelah kanan,
atau ke sebelah kiri;
tak akan aku berguling bagai bola,
kecuali tak sengaja.
Seperti itulah, wahai Al-Hakim,
Engkau membolak-balikkan aku
kadang ke kanan, kadang ke kiri. [1]
Ratusan ribu tahun aku melayang
kesana-kemari, bak debu di udara. [2]
Telah kulupakan keadaan saat itu,
tapi ketika jiwaku tengah lebur,
dibawa aku kembali ke sana,
dan perlahan ingatanku pulih.
Setiap malam kudamba kemerdekaan
dari salib bercabang empat ini, [3]
dan melesat dari wadah sementara yang sesak ini,
menuju padang ruhaniah nan lapang.
Bersama sang juru-rawatku: tidur yang lebur,
kuhirup kembali susu berupa pengetahuan
masa-masaku yang telah berlalu,
yaa Rabbi.
Semua makhluk melarikan diri
dari kehendak-bebas
dan keberadaan diri mereka sendiri
menuju sisi ketidak-sadaran.
Agar sejenak mereka dapat rehat
dari terbatasnya kesadaran mereka,
mereka gunakan bantuan minuman dan irama. [4]
Semua makhluk berakal paham,
keberadaan ini bisa memerangkap,
dan hilir-mudiknya pikiran dan ingatan
dapat menjadi sebuah neraka.
Tataplah insan berakhlak mulia:
bergegas mereka
tinggalkan keakuan diri,
menuju ketiadaan ego;
dengan meleburkan-diri,
atau dengan amal yang berat.
Catatan:
[1] Dari QS al-Kahfi [18]: 18, “… dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri…”
[2] Ini tentang periode ketika jiwa belum dimasukkan ke dalam jasmani.
[3] Lepasnya jiwa dari penjara jasmani (yang terbentuk dari 4 unsur).
[4] “Minuman,” pengetahuan anugerah Rabb, sangat menyegarkan jiwa;
“irama,” ritme jalannya kehidupan yang berpola selaras pengajaran-Nya.
Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 216 – 227
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama kali diunggah pada Minggu, 15 Desember 2013,
di: https://ngrumi.blogspot.com/2013/12/lepaskan-lah-beban.html