
Foto: Antón Jáuregui on Unsplash
Sang Nabi saw, berkata,
para ahli surga itu lemah dalam berdebat
karena keagungan pencapaian mereka;
Karena sempurnanya kehati-hatian mereka
dan menganggap rendah diri sendiri,
bukan karena lemah-akal, pengecut atau lemah-iman.
Dengan memberikan keuntungan kepada lawan mereka,
diam-diam mereka mendengar hikmah ayat
“… dan kalau tidaklah terdapat disana para lelaki beriman …” [1]
Maka, tidak menyentuh kaum kafir yang tercela itu
menjadi suatu tugas, demi membebaskan kaum beriman.
Bacalah kisah perjanjian Hudaibiya:
“… adalah Dia yang menahan tanganmu dari mereka…”;
dari sabda itu pahamilah keseluruhan kisah. [2]
Bahkan dalam kemenangan,
sang Nabi saw, memandang dirinya sendiri
dikendalikan oleh buhul-tali Keagungan Ilahiah.
(Beliau saw, bersabda,) “Bukanlah aku tertawa
karena aku menyergapmu di waktu fajar
sehingga berhasil menangkapd an mengikatmu;
Aku tertawa karena aku menyeretmu
dengan rantai dan belengu menuju
taman pinus dan mawar al-Jannah.
Bayangkan, kami menggiringmu dalam ikatan,
dari api yang kejam ke tempat yang melimpah
dengan kesegaran;
Dengan rantai yang berat Akumenyeretmu
dari Api ke al-Jannah yang kekal.”
Setiap pengembara buta, yang berbudi atau jahat;
Dia menyeretnya, dibelengu rantai,
menuju ke Hadirat-Nya.
Semuanya menempuh jalan ini
dengan terikat rantai ketakutan dan godaan,
kecuali para Waliyullah. [3]
Berjuanglah, sehingga terang cahaya di dalam dirimu,
sehingga bergeraknya engkau di jalan pengabdian
dan pelayanan kepada-Nya dibuat mudah.
Engkau mengajak anak-anakmu ke sekolah dengan paksa,
karena mereka buta akan manfaat pengetahuan.
Ketika dimasukkan ke dompetnya sedikit upah
bagi usahanya itu, semalaman dia tidak bisa tidur,
bagaikan seorang pencuri.
Berjuanglah, agar ganjaran kepatuhan kepada-Nya
segera tiba: barulah engkau bisa iri kepada hamba yang patuh.
Perintah “datanglah dengan terpaksa”
ditujukan kepada pengikut yang buta;
“datanglah dengan senang-hati”diperuntukkan bagi
orang yang dicetak oleh ketulusan. [4]
Yang pertama, bagaikan seorang bayi,
mencintai Juru-rawat hanya demi susu;
sementara yang satunya lagi
mempersembahkan hatinya kepada
Yang-Maha-Tersembunyi.
“Bayi” tidak mengenal kecantikan-Nya;
dia tidak menginginkan dari-Nya kecuali susu semata;
Sementara pencinta sejati Juru-rawat
tidak memementingkan diri-sendiri,
tulus-ikhlas dalam kesetiaan yang murni.
Jadi, yang mencintai Tuhan demi suatu harapan
atau ketakutan, tekun membaca kitab kepatuhan buta.
Sementara yang mencintai Tuhan hanya demi diri-Nya,
dimanakah dia?
karena dia terpisah darikepentingan diri-sendiri
dan sebab-akibat.
Apakah seseorang itu termasuk jenis
yang pertama atau yang ke dua,
sejauh dia seorang pencari Tuhan,
maka daya tarik Tuhan akan menariknya kepada-Nya.
Apakah pencari Tuhan itu,
mencintai-Nya demi sesuatu selain-Nya?
Hanya agar selalu dapat bagian dari kebaikan-Nya?
Atau mencintai Tuhan hanya demi diri-Nya,
karena tiada sesuatupun dapat disandingkan dengan-Nya,
agar tidak terpisah dari-Nya?
Dalam ke dua hal itu,
perjalanan maupun pencarian berasal dari
suatu Sumber: hati para pencari tertawan
oleh Sang Pemesona-Hati.
Catatan:
[1] QS [48]: 25
[2] QS [48]: 24
[3] QS [10]: 62[4] QS [41]: 11
Sumber:
Rumi: Matsnavi, III: 4571 – 4601
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngRumi.
Pertama diunggah di:
https://ngrumi.blogspot.com/2009/02/semuanya-beringsut-dengan-enggan-di.html
pada 22 Pebruari, 2009