Rumi

Makam Rumi di Konya
Mawlana Rumi (lahir di Balkh, sekarang Afganishtan, dan wafat di Konya, Turki) merupakan seorang Guru Sejati bagi para pencari Rabb.

Bagi peminat sastra, Beliau diakui sebagai salah satu penyair terbesar yang pernah berkarya. Setelah puisi-puisinya diterjemahkan dari Bahasa Persia ke berbagai bahasa, apresiasi kepada ketinggian nilai sastra Islam dan Sufisme meningkat. Ini juga menyumbang pemahaman yang lebih utuh tentang Islam.

Seperti telah lama diramalkan, puisi-puisinya menjadi kesayangan berbagai kalangan masyarakat di seluruh dunia. Bahkan, beberapa tahun lalu, Rumi dinyatakan sebagai penyair yang paling digemari di Amerika Serikat. (https://www.bbc.com/culture/article/20140414-americas-best-selling-poet) Suatu fakta yang menarik: penyair yang terbanyak dipelajari karyanya oleh masyarakat Amerika abad 21 merupakan seorang Waliyullah (Muslim) yang wafat pada tahun 1273M di Konya, Turki.

UNESCO pun mengakui karya-karya Rumi sebagai bagian dari warisan bagi umat manusia.(https://news.un.org/en/story/2007/09/230372)
(UN culture agency celebrates life of poet, philosopher and spiritual leader Rumi | UN News)

Perkenalan Barat modern kepada Rumi dipelopori oleh Nicholson dan muridnya Arberry. Mereka bekerja keras seumur hidupnya untuk menterjemahkan karya-karya Mawlana Rumi ke dalam Bahasa Inggris. Banyak penerjemah melanjutkan pembahasaan itu ke dalam Bahasa Inggris yang lebih populer.

Belakangan ini, ada beberapa ilmuwan yang juga meneladani Nicholson dan Arberry dalam menerjemahkan karya Rumi langsung dari Bahasa Persia. Ibrahim Gamard, Franklin D. Lewis, dan Yahya Monastra, untuk menyebut beberapa di antaranya, memperkaya kita dengan terjemahan yang sangat terjaga dan teliti; serta semakin membantu apresiasi kepada karya-karya Rumi.

Pada jalur pendekatan lain, ada juga yang mendasarkan terjemahan karya-karya Rumi dari sumber-sumber berbahasa Turki, seperti yang dilakukan oleh Nevit O. Ergin.

Blog ini merupakan sarana belajar yang menterjemahkan beberapa puisi Rumi dari Matsnavi dan Divan ke Bahasa Indonesia via sumber-sumber berbahasa Inggris, utamanya dari hasil kerja Nicholson dan Arberry.

Tentang kedudukan puisi-puisinya, Mawlana Rumi sendiri menyatakan:

Puisi-puisiku bagaikan roti dari Mesir,
seseorang boleh-jadi melewatkannya,
dan engkau tidak dapat mengunyahnya
lebih banyak lagi.
 
Karenanya, telanlah sekarang manakala masih segar,
sebelum debu dunia ini hinggap di atasnya.
 
Tempat yang tepat bagi puisi adalah di sini:
di dalam kehangatan dada,
di dunia luar sana,
ia mati kedinginan.
 
Perhatikanlah seekor ikan,
taruhlah di atas tanah yang kering,
ia menggelepar beberapa menit,
setelah itu ia terdiam.
 
Bahkan, jika engkau menelan puisi-puisiku,
sewaktu mereka masih segar,
engkau masih harus menghadirkan sendiri
berbagai khayal.
 
Sesungguhnya, sahabatku,
yang engkau telan adalah khayal-mu sendiri.
 
Ini bukanlah sekumpulan peribahasa usang.

Sedangkan mengenai dirinya sendiri, secara jelas dinyatakannya sendiri dalam sebuah rubaiyatnya, No. 198:

Turbanku, jubahku, kepalaku,
semua tak berharga sepeser pun.
 
Tahukah engkau, betapa terkenalnya aku,
di seantero alam.
 
Aku telah lebur-musnah.
 
Aku bukan sesuatu pun.
 
Aku Tiada.

Sebagai seorang Waliyullah, tentulah beliau bekerja membantu Rasulullah SAW untuk menyeru kepada ad-Diin. Sedangkan dirinya sendiri lenyap, lebur-musnah dalam penghambaan.

Sedangkan tentang bagaimana cara memahami Beliau dan puisi-puisinya, ditinggalkannya petunjuk yang jelas selaras dengan seruan semua Sufi sepanjang zaman; pada salah satu Ghazalnya:

Wahai orang yang ingin mencium harumku,
Mestilah engkau terlebih dulu mati.
 
Jangan cari aku,
Ketika engkau masih hidup.

Demikianlah, sekalipun puisi-puisi berikut ini sudah mengalami dua kali penerjemahan, semoga masih ada gunanya bagi pembaca.

8 thoughts on “Rumi

Leave a Reply to asterix.galia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *